KAMIS, 30 April 2026, menjadi hari yang tak biasa bagi warga Desa Bainaa Barat, Kecamatan Tinombo. Setelah 24 tahun Kabupaten Parigi Moutong berdiri, untuk pertama kalinya seorang kepala daerah menembus wilayah yang selama ini seolah berada di balik peta pembangunan.
Bupati Parigi Moutong, Erwin Burase, datang langsung dalam kunjungan kerja maraton. Ia tidak hanya datang untuk seremonial, tetapi menelusuri satu per satu wajah nyata pendidikan dan infrastruktur di pelosok yang lama terabaikan.
Sekolah kecil, beban besar
Langkah pertama rombongan berhenti di SD Terpencil Bainaa Barat. Dari kejauhan, bangunan itu tampak rapuh. Dua ruang kelas menampung sekitar 70 siswa. Dinding papan dan lantai kayu sudah lapuk dimakan usia.
Di ruang sederhana itulah, anak-anak tetap belajar setiap hari. Di tempat yang bagi sebagian orang mungkin sudah tak layak disebut ruang kelas.
Melihat kondisi itu, Bupati Erwin tidak menunggu lama. Ia langsung menginstruksikan langkah darurat dan jangka panjang: rehabilitasi bangunan sekolah, pengadaan meja dan kursi baru, hingga pemasangan listrik dan jaringan internet.
Ia juga meminta program makan bergizi gratis segera masuk, sekaligus perbaikan akses jalan menuju sekolah.
“Pendidikan adalah hak setiap anak Parigi Moutong. Tidak boleh ada perbedaan antara kota dan desa terpencil,” tegas Erwin dalam siaran pers yang Eranesia.id terima, Jumat (1/5/2026).
Sungai yang memisahkan harapan
Perjalanan kemudian berlanjut ke Jembatan Garuda, penghubung Dusun II dan Dusun III. Jembatan ini sedang dibangun oleh TNI dengan progres sekitar 20 persen. Selama ini, jembatan menjadi kebutuhan yang sangat mendesak.

Sebelum ada pembangunan, anak-anak sekolah harus menyeberangi sungai untuk belajar. Arus deras menjadi risiko yang harus mereka hadapi setiap hari.
Di titik ini, pembangunan bukan sekadar infrastruktur, tetapi juga soal keselamatan dan kesempatan hidup yang lebih aman.
Tidak jauh dari lokasi itu, ancaman lain terlihat jelas. Abrasi sungai perlahan menggerus daratan. Sekitar 10 kepala keluarga hidup dalam bayang-bayang rumah yang nyaris ambruk.
Bupati langsung menginstruksikan pembangunan bronjong untuk menahan arus sungai. Langkah itu diharapkan dapat menghentikan laju kerusakan sebelum rumah warga benar-benar hilang.
Erwin mengatakan, pembangunan tidak boleh berhenti di pusat kota.
“Pemerintah hadir untuk menjamin keselamatan dan kenyamanan masyarakat,” ujarnya.
Erwin meminta seluruh OPD bergerak cepat, bukan hanya merencanakan, tetapi mengeksekusi kebutuhan mendesak di lapangan.
Haru di ujung perjalanan
Kunjungan itu meninggalkan kesan mendalam bagi warga Bainaa Barat. Kepala desa dan tokoh masyarakat menyampaikan rasa haru dan terima kasih.
Bagi mereka, ini bukan sekadar kunjungan kerja, tetapi perhatian yang sudah lama mereka nantikan.
Selama lebih dari dua dekade, ini adalah kali pertama seorang bupati melihat langsung kondisi mereka di pelosok.
Turut mendampingi dalam kunjungan tersebut Plt. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sunarti, Camat Tinombo Muamar, Kepala Desa Bainaa Barat, serta sejumlah pejabat OPD terkait.
Di Bainaa Barat hari itu, pembangunan tidak hanya dibicarakan. Ia benar-benar disentuh, dilihat, dan diharapkan mulai bergerak.
Sumber : Diskominfo Parigi Moutong | Editor : Muh Taufan













