Ekonomi

Hilirisasi Nikel PT IMIP Berhasil Dongkrak Ekonomi Nasional

×

Hilirisasi Nikel PT IMIP Berhasil Dongkrak Ekonomi Nasional

Sebarkan artikel ini
Karyawan dengan APD lengkap melakukan peleburan logam di smelter kawasan IMIP, Morowali, Sulawesi Tengah. Hilirisasi teknologi tinggi ini bertujuan meningkatkan nilai tambah mineral mentah, menjadi motor utama pendorong pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah hingga 8,47 persen pada tahun 2025. Dok: PT IMIP/Eranesia.id

SEKTOR industri pengolahan di Kabupaten Morowali mendorong surplus neraca perdagangan Sulawesi Tengah (Sulteng).

Selain meningkatkan nilai ekspor, aktivitas manufaktur, khususnya di kawasan PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), menciptakan efek berganda terhadap perekonomian lokal.

Aktivitas ini meningkatkan kegiatan usaha, mobilitas tenaga kerja, dan potensi penerimaan pajak daerah.

Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Sulteng, Andi Irman mengatakan, struktur ekonomi daerah tidak sepenuhnya bergantung pada sektor industri.

Komoditas pertanian dan perkebunan, seperti kakao dan kelapa, serta sektor perikanan tetap menopang ekonomi. Sektor ini menjaga keseimbangan dan diversifikasi jangka panjang.

Namun, hilirisasi mineral berbasis nikel di Morowali mendorong pergeseran struktur ekonomi. Daerah bergerak dari pengolahan bahan mentah ke produk bernilai tambah tinggi.

Produk seperti feronikel, nickel pig iron, dan pelbagai turunan logam kini menjadi komoditas ekspor utama Sulteng.

“Dari sisi perdagangan luar negeri, Sulteng mencatat kinerja solid dengan dominasi ekspor produk hasil hilirisasi industri. Nilai ekspor tinggi terutama berasal dari kawasan industri di Morowali dan Morowali Utara, pusat produksi logam berbasis nikel untuk pasar global,” ujar Andi dalam siaran pers yang diterima Eranesia.id, Selasa (31/3/2026).

Sementara itu, daerah mengimpor mayoritas barang modal dan bahan baku industri.

Sepanjang 2025, sektor industri pengolahan mencatat kinerja perdagangan luar negeri sangat kuat. Sulteng mengekspor USD 22,32 miliar, naik 5,14 persen dibanding 2024 sebesar USD 21,22 miliar. Aktivitas impor juga meningkat menjadi USD 11,31 miliar, mengikuti kebutuhan bahan baku dan barang modal untuk ekspansi industri.

Kabupaten Morowali memimpin perdagangan luar negeri. Pelabuhan Bahodopi dan Morowali mencatat ekspor gabungan USD 18,08 miliar, atau 81 persen dari total ekspor Sulteng.

Dari sisi komoditas, ekspor didominasi produk besi dan baja (61,31%), disusul nikel (16,59%). Sektor ini tetap tangguh. Pertumbuhan ekspor mencapai 17,41 persen selama tiga tahun terakhir (2023–2025), meski harga nikel di London Metal Exchange (LME) turun 40,82 persen sejak 2022.

Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Sulteng memperkirakan perdagangan luar negeri tetap positif. Permintaan global, terutama dari Tiongkok, mendorong ekspor.

Dua komoditas unggulan berbasis nikel dari IMIP, yaitu baja tahan karat (stainless steel) dan mixed hydroxide precipitate (MHP) sebagai prekursor baterai kendaraan listrik, menopang ekspor Sulteng.

Hilirisasi juga meningkatkan nilai tambah produk ekspor. Permintaan global terhadap bahan baterai EV dan stainless steel membuka peluang pertumbuhan ekspor turunan nikel.

Direktorat Jenderal Bea dan Cukai mencatat impor bahan baku industri mencapai USD 8,82 miliar (79 persen dari total impor). Impor barang modal naik 14,4 persen menjadi USD 2,33 miliar.

Angka ini mendukung operasional 52 perusahaan di IMIP. Tren impor menandai fase ekspansi industri, penguatan kapasitas produksi, serta investasi berkelanjutan dalam fasilitas dan infrastruktur.

Kontribusi Signifikan

KPwBI Sulteng menyoroti kontribusi signifikan Kabupaten Morowali terhadap perekonomian regional. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan sektor industri pengolahan di Morowali menyumbang 47,6 persen total Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Sulteng.

Pertumbuhan ekonomi Morowali hingga Maret 2026 mencapai 10,81 persen, kedua tertinggi di antara 13 kabupaten/kota, setelah Morowali Utara (19,97 persen). Secara keseluruhan, pertumbuhan ekonomi Sulteng mencapai 8,47 persen, lebih tinggi dari rata-rata nasional 5,11 persen.

Meski fluktuatif, Morowali tetap menjadi tulang punggung stabilitas ekonomi regional. Surplus neraca perdagangan Sulteng tidak hanya mencerminkan ekspor yang kuat, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi lokal.

Memasuki 2026, KPwBI Sulteng optimis ekonomi daerah tumbuh di kisaran 12–13 persen. Total investasi yang masuk ke IMIP hingga Desember 2025 mencapai USD 41,483 miliar (Rp696,91 triliun), naik dari USD 29,6 miliar pada 2022.

Angka ini mencerminkan tingginya kepercayaan investor global terhadap ekosistem industri nikel terintegrasi di kawasan ini.

Deputi Direktur Operasional PT IMIP, Yulius Susanto, menyatakan pertumbuhan investasi berjalan seiring peningkatan aktivitas industri dan penyerapan tenaga kerja.

Rilis | Editor : Muh Taufan