ANGKA stunting pada anak di bawah dua tahun (baduta) di sejumlah kecamatan di Kota Palu mulai menunjukkan penurunan signifikan.
Berdasarkan data per Mei 2026, berbagai intervensi yang Pemerintah Kota (Pemkot) Palu bersama seluruh pemangku kepentingan galakkan membuahkan perkembangan positif ini.
Meski trennya membaik, sebaran kasus masih timpang. Kecamatan Mantikulore mengantongi angka baduta stunting tertinggi, yakni 132 kasus. Sebaliknya, Kecamatan Palu Utara mencatat angka terendah dengan 24 kasus.
Perkembangan data ini menjadi sorotan utama dalam Rapat Kerja Percepatan Pencegahan dan Penurunan Stunting. Wakil Wali Kota Palu, Imelda Liliana Muhidin, memimpin langsung rapat tersebut di Ruang Rapat Bappeda Kota Palu, Selasa (9/6/2026).
Imelda menegaskan bahwa seluruh program penanganan stunting harus berdampak langsung dan tepat sasaran. Ia juga membagikan pengalamannya saat turun langsung ke lapangan, termasuk memantau kecukupan gizi anak-anak di sejumlah sekolah dasar.
“Kita harus memastikan langsung di lapangan apa yang menyebabkan anak-anak mengalami stunting dan bagaimana kondisi riil mereka. Kita perlu melihat sendiri apakah mereka sudah mencukupi kebutuhan gizi dengan baik,” ujarnya.
Selain intervensi gizi, Imelda juga menyoroti pentingnya edukasi pola asuh dan pola makan orang tua. Demi mendukung hal tersebut, ia meminta seluruh kader kesehatan dan instansi terkait memperketat sistem pencatatan data.
“Saya berharap kader kesehatan menyerahkan semua data setiap minggu agar kita bisa memantau perkembangan dan melakukan evaluasi secara berkala,” tegasnya.
Tantangan Akurasi Data di Lapangan
Pada kesempatan yang sama, Ketua TP PKK Kota Palu, Diah Puspita, mengingatkan pentingnya sinkronisasi data. Menurutnya, jurang pemisah antara data administratif dan kondisi riil di lapangan bisa menjadi batu sandungan bagi efektivitas intervensi di tiap kecamatan.
“Jangan sampai data yang kita pegang berbeda dengan realitas di lapangan. Jika kita tidak mengawasi dan mendampingi program ini dengan baik, kita akan terus menghadapi persoalan yang sama,” kata Diah.
Oleh karena itu, Diah mendesak penguatan koordinasi lintas sektor, mulai dari tingkat kelurahan, kecamatan, hingga perangkat daerah terkait.
“Mohon meningkatkan koordinasi lintas sektor. PKK akan terus turun ke lapangan untuk memastikan validitas data dalam penanganan stunting ini,” ungkapnya.
Melalui kolaborasi yang solid, pendataan yang presisi, serta intervensi yang tepat sasaran, Pemkot Palu optimistis bisa terus menekan angka stunting demi mencetak generasi masa depan Kota Palu yang lebih sehat dan unggul.













