PEMERINTAH Kota (Pemkot) Palu menghadiri diskusi peningkatan pelayanan kepada konsumen di salah satu warung kopi di kota itu, Sabtu (5/9/2026).
Yayasan Lembaga Konsumen (YLK) Sulawesi Tengah menginisiasi kegiatan ini guna memperingati Hari Pelanggan Nasional 2026.
Staf Ahli Bidang Infrastruktur dan Lingkungan, Moh Fahri menyampaikan apresiasi tinggi atas inisiatif YLK Sulteng.
Menurutnya, pelayanan konsumen bukan sekadar transaksi jual beli, melainkan tentang membangun kepercayaan, menjamin perlindungan hak, menyajikan kualitas produk, serta menjaga tanggung jawab bersama demi iklim usaha yang sehat dan berkeadilan.
“Konsumen adalah penggerak roda perekonomian. Saat pelaku usaha melayani masyarakat dengan baik sehingga mereka merasa aman dan nyaman, kepercayaan masyarakat otomatis meningkat. Sebaliknya, pelayanan buruk dan ketidakjelasan informasi akan merusak kepercayaan publik dan merugikan dunia usaha. Pelaku usaha harus menjalankan perlindungan konsumen dan peningkatan kualitas pelayanan secara beriringan,” tegas Fahri.
Ia mengingatkan para pelaku usaha agar menempatkan konsumen sebagai mitra keberlangsungan bisnis, bukan sekadar pembeli. Pelaku usaha perlu memandang pelayanan yang ramah, cepat, jujur, dan transparan sebagai bagian dari strategi bisnis berkelanjutan.
Di sisi lain, ia mengajak masyarakat menjadi konsumen yang cerdas dan kritis. Masyarakat perlu memahami hak dan kewajiban, cermat melihat kualitas produk, serta berani menyampaikan pengaduan jika mengalami kerugian.
Dalam hal ini, YLK Sulteng memegang peran sangat strategis sebagai jembatan edukasi, pendampingan, dan pengaduan antara masyarakat, pemerintah, dan pelaku usaha.
Fahri menyebutkan komitmen Pemkot Palu dalam menghadirkan pelayanan publik yang berorientasi pada masyarakat. Pemkot Palu mengandalkan nilai ini agar tumbuh menjadi budaya dalam dunia bisnis setempat.
Ia berharap forum ini tidak berhenti sebagai seremoni tahunan, melainkan menjadi ruang diskusi konkret untuk merumuskan solusi atas berbagai persoalan pelayanan konsumen di Sulawesi Tengah.
“Jadikan keluhan konsumen sebagai evaluasi untuk perbaikan, bukan ancaman. Mari kita bangun ekosistem perdagangan yang saling menghargai pelaku usaha berkembang, dan konsumen memperoleh haknya secara adil,” ungkap Fahri.
Dirinya menekankan bahwa indikator pertumbuhan ekonomi tidak hanya bergantung pada tingginya aktivitas perdagangan, tetapi juga pada kepuasan, kepercayaan, dan kesejahteraan masyarakat.













