KANTOR Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Sulawesi Tengah mencatat lonjakan tajam pada sistem pembayaran nontunai.
Kepala KPwBI Sulteng, Muhamad Irfan Sukarna, memaparkan bahwa transaksi QRIS di wilayahnya terus tumbuh pesat.
Pada Triwulan II 2026 (data hingga Mei), jumlah transaksi QRIS di Sulteng menyentuh angka 41,00 juta transaksi.
Angka ini melonjak tajam hingga 348% dibandingkan periode yang sama tahun lalu (Year on Year/YoY). Menariknya, capaian Triwulan II 2026 ini sudah melampaui total transaksi kumulatif sepanjang tahun 2025.
Sepanjang tahun lalu, total transaksi QRIS di Sulteng tercatat sebesar 37,80 juta transaksi.
“Tren ini membuktikan tingginya antusiasme masyarakat dalam mengadopsi pembayaran digital,” kata Irfan di Palu, Jumat (3/7/2026).
Menurutnya, pertumbuhan volume transaksi ini berjalan selaras dengan peningkatan jumlah pengguna baru.
Pada Triwulan II 2026, pengguna QRIS di Sulawesi Tengah tumbuh 16,00% (YoY) hingga mencapai 400 ribu pengguna.
Selain pengguna, jumlah merchant QRIS di Sulawesi Tengah juga konsisten mengalami peningkatan. Bank Indonesia mencatat jumlah merchant kini mencapai 340,29 ribu, atau tumbuh sebesar 36,69% (YoY).
“Tren positif ini sukses memperkuat ekosistem digital di Sulawesi Tengah,” tandas Irfan.
Saat ini, Sulawesi Tengah menempati posisi ketiga sebagai daerah dengan merchant QRIS terbanyak di wilayah Sulampua (Sulawesi, Maluku, Papua). Sulteng hanya berada di bawah Sulawesi Selatan dan Sulawesi Utara.
Dari total merchant yang ada, pelaku Usaha Mikro mendominasi penggunaan QRIS di Sulawesi Tengah. Sektor usaha mikro menguasai pangsa pasar terbesar dengan persentase mencapai 79%.













