EkonomiHeadline

Mengenal Peran Vital “Jubir” di IMIP: Tak Cuma Bahasa, Wajib Paham Teknis dan K3

×

Mengenal Peran Vital “Jubir” di IMIP: Tak Cuma Bahasa, Wajib Paham Teknis dan K3

Sebarkan artikel ini
Peran penerjemah tak lagi sekadar mengalihbahasakan percakapan. Mereka harus memastikan setiap informasi teknis dipahami dengan tepat sesuai konteks pekerjaan. Dok: Humas PT IMIP

DI balik aktivitas ribuan pekerja yang menggerakkan roda operasional di PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), ada peran penerjemah (translator) sebagai jembatan komunikasi antara tenaga kerja asing (TKA) asal Tiongkok dan tenaga kerja Indonesia (TKI).

Masyarakat di kawasan IMIP mengenal mereka sebagai “Jubir” yang turut mendukung proses transfer pengetahuan, keselamatan kerja, dan kolaborasi lintas budaya. Kebutuhan tenaga penerjemah muncul sejak awal pembangunan IMIP sekitar tahun 2014.

Seiring bertambahnya perusahaan dan perkembangan teknologi pengolahan nikel, kebutuhan terhadap sumber daya manusia (SDM) yang mampu menghubungkan komunikasi lintas bahasa terus berkembang.

Peran penerjemah tak lagi sekadar mengalihbahasakan percakapan. Mereka harus memastikan setiap pekerja memahami informasi teknis secara tepat sesuai konteks pekerjaan.

Wakil Manajer Departemen General Affairs PT Eternal Tsingshan Indonesia, Fanny Viviansi, menjelaskan bahwa keberadaan translator menjadi kebutuhan mendasar sebagai penghubung antarkaryawan.

Kini standar kompetensinya semakin berkembang menyesuaikan kebutuhan teknis masing-masing departemen.

Menurut Fanny, perusahaan tidak hanya mencari kandidat penerjemah dari TKI yang mahir berbahasa Mandarin, tetapi juga mampu memahami lingkup teknis bidang pekerjaan.

Oleh karena itu, perusahaan menyeleksi calon translator secara ketat dalam proses rekrutmen. Calon yang menunjukkan potensi akan menjalani evaluasi pemahaman teknis sesuai kebutuhan setiap departemen.

Fanny menyebutkan, tim rekrutmen mengukur capaian nilai calon translator dari hasil wawancara dan tes tulis mengacu pada standar kemampuan bahasa Mandarin atau Hànyǔ Shuǐpíng Kǎoshì (HSK). Perusahaan menetapkan standar HSK minimal setara level 4 atau 5 bagi calon translator.

“Kami memilih standar HSK 4 dan 5 mengacu pada ketetapan Tiongkok. Selain mengerti ucapan lawan bicaranya, jubir harus memahami konteks pekerjaan dan mampu menyampaikan informasi secara akurat serta tepat,” ujar Fanny, Kamis (13/8/2026).

Selain menguasai bahasa, jubir harus memiliki pemahaman mengenai budaya kerja Indonesia dan Tiongkok melalui interaksi dengan TKA. Fanny menguraikan tiga aspek mendasar yang penting bagi translator di kawasan IMIP.

Pertama, mengenal baik faktor perbedaan budaya antara TKA dan TKI untuk membangun komunikasi lintas budaya. Seorang translator harus memahami dan peka terhadap karakter budaya serta cara berkomunikasi yang berbeda antara orang Indonesia dan Tiongkok. Mereka perlu menyampaikan pesan secara tepat tanpa menghilangkan makna atau memicu kesalahpahaman.

Fanny mencontohkan, budaya Tiongkok sangat memperhitungkan hierarki peran sehingga mereka kerap berbicara secara lebih terbuka dan langsung. Sementara itu, orang Indonesia cenderung mengutamakan perasaan dan relasi antarpribadi.

Kedua, komunikasi di lingkungan industri manufaktur seperti IMIP berkaitan erat dengan aspek keselamatan kerja. Maka dari itu, tim harus mencegah kesalahan penerjemahan instruksi demi memastikan tidak ada risiko.

Ketiga, translator berperan meminimalkan risiko dari pesan yang mereka sampaikan, baik kepada TKA maupun TKI. Fanny mengungkapkan, ia sering mengingatkan para translator agar aktif berperan menjembatani perbedaan budaya tersebut.

“Dalam praktik penerjemahan, kami berharap translator mampu menyaring serta memahami konteks dan lingkungan pembicaraan. Mereka menyaring isi pesan yang hendak mengalir dari bahasa Indonesia ke Mandarin, dan sebaliknya,” ujarnya.

PT Eternal Tsingshan Indonesia menerapkan sistem evaluasi kemampuan bahasa translator secara berkala. Para penerjemah dapat mengikuti ujian kompetensi setiap tiga bulan untuk meningkatkan level kemahiran berbahasa. Peningkatan kompetensi ini membuka peluang pengembangan karier dan tanggung jawab penerjemah di lingkungan kerja.

Buka Kelas Bahasa Mandarin, Pacu Keahlian TKI Talenta Bilingual

Data Departemen HR PT IMIP mencatat bahwa pertumbuhan jumlah TKI yang menjabat sebagai translator mengalami dinamika fluktuatif dalam tiga tahun belakangan.

Pada 2023 berjumlah 2.095 orang, meningkat menjadi 2.382 orang pada 2024, lalu menurun menjadi 1.876 orang pada 2025. Misi PT Eternal Tsingshan Indonesia dalam mendorong peningkatan keahlian TKI agar lebih bertalenta bilingualmemengaruhi dinamika ini. Salah satunya dengan memperluas peluang bagi karyawan untuk mengikuti pembelajaran bahasa Mandarin intensif di Wenzhou University, Tiongkok.

Program tersebut, kata Fanny, telah menghasilkan ratusan karyawan Indonesia yang memiliki kemampuan berbahasa Mandarin.

Perusahaan telah memercayakan sebagian dari mereka untuk menjalankan tugas menerjemahkan di berbagai area operasional, mempercepat transfer ilmu dan teknologi antara TKA dan TKI, serta mengisi posisi-posisi strategis.

Kelas bahasa Mandarin yang Tsingshan adakan sejak Mei 2022 telah berlangsung sebanyak enam angkatan (batch) dengan sekitar 1.800 peserta. Hingga Juli 2026, perusahaan mengutus 430 orang yang lulus seleksi HSK 4 ke Tiongkok.

Mereka mendalami pembelajaran bahasa Mandarin di Wenzhou University di Provinsi Zhejiang atau University of Science and Technology Beijing. Terbaru pada angkatan keenam, perusahaan memilih 29 orang di antaranya untuk berangkat ke Wenzhou University.

Menurut Fanny, kelas bahasa Mandarin tidak bertujuan mengurangi peran penting translator. Sebaliknya, program ini bertujuan mengembangkan keterampilan teknis sekaligus bahasa asing karyawan Indonesia.

“Ke depan, kami ingin semakin banyak karyawan Indonesia yang mampu berbahasa Mandarin dan menempati jabatan strategis. Ini langkah bagus untuk memotivasi mereka agar terus belajar, sehingga tempat kerja dapat menyerap lebih banyak tenaga kerja lokal Sulawesi untuk menjalankan peran penerjemah,” ucapnya.

Sebagai rencana jangka panjang, Tsingshan memproyeksikan pengembangan talenta bilingual sebagai bagian dari strategi peningkatan kualitas SDM di kawasan IMIP. Beberapa posisi mewajibkan calon karyawan menguasai bahasa Indonesia, Inggris, dan Mandarin.

Selain memperkuat komunikasi antarbudaya, standar ini mendorong terciptanya lingkungan kerja yang produktif, kolaboratif, aman, serta mendukung pertumbuhan industri hilirisasi yang berkelanjutan.