DI balik kesibukan kawasan industri mineral nikel Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), pekerja lokal menyimpan banyak kisah inspiratif. Meidi Yurianti Mangkasa menghadirkan salah satunya.
Analis Kimia dan Air di PT TTRI salah satu penyewa di kawasan IMIP ini melepas jas laboratoriumnya seusai jam kerja. Ia berganti peran menjadi petani hidroponik, pengusaha, sekaligus pembuat konten di Desa Makarti, Kecamatan Bahodopi, Morowali, Sulawesi Tengah.
“Kalau mau untung lebih, memang harus mau korban waktu,” tutur Meidi saat menyapa pengunjung di green housemiliknya sebagaimana dikutip dari siaran pers PT IMIP, Sabtu (26/9/2026).
Rutinitas harian Meidi di laboratorium berkutat erat dengan angka dan sampel material ore untuk menguji kadar serta nilai ekonomi nikel. Namun di luar ruangan steril itu, jemarinya merawat ribuan tanaman hijau segar.
Petualangan bisnisnya bermula dari langkah sederhana pada awal 2023. Berbekal pot plastik (polybag) dan tanah subur, Meidi menguji keberuntungannya berkebun di balkon indekosnya di Desa Labota. Ia memasak sendiri hasil panen pertamanya lalu membagikannya ke tetangga kos.
Sensasi memetik hasil tanam sendiri memberi kepuasan tersendiri bagi Meidi. Titik balik bisnisnya terjadi saat ia mengunggah foto selada hasil panen ke media sosial. Seorang teman berminat membeli selada itu seharga Rp5.000 per pohon.
“Dari transaksi sederhana itu, saya sadar ini bisa jadi rupiah,” kenangnya.
Meidi pun mulai memetakan peluang pasar di Bahodopi. Ia mendatangi restoran, kedai burger, penjual kebab, hingga toko makanan beku (frozen food).
Pasar yang menjanjikan mendorongnya membangun green house profesional berlabel Mey Farm Hidroponik pada Maret 2023 dan memetik hasil perdana dua bulan berselang.
Meidi turut menerapkan ketelitiannya sebagai analis kimia dalam merawat tanaman. Pada tahap pembibitan, ia menjaga konsentrasi nutrisi di angka 500–600 ppm.
Memasuki fase remaja (10 hari), ia menaikkan kadar nutrisi ke 800–900 ppm selama 17–20 hari. Terakhir, pada meja dewasa, ia menetapkan kadar nutrisi 1.000–1.200 ppm hingga selada siap petik pada usia 40 hari.
Pujian Konsumen
Konsumen pun mengakui kualitas produk Mey Farm. Eka Oktavia, pemilik usaha Frozen Food Bahomakmur, mengaku langganan membeli selada Meidi seharga Rp10.000 per pohon.
“Rasanya tidak pahit, ukurannya besar, harganya terjangkau, dan kemasannya rapi. Selada ini bisa bertahan sampai 10 hari di kulkas,” puji Eka.
Bagi Meidi, green house ini bukan sekadar sumber penghasilan tambahan, melainkan juga sarana melepas penat dari tekanan pekerjaan laboratorium.
Ia sadar statusnya sebagai karyawan tak akan bertahan selamanya. Lewat usaha ini, ia berharap bisa memperluas area perkebunan, membuka lapangan kerja bagi warga lokal, sekaligus memberi dampak lingkungan.
“Saya berharap hidroponik ini bisa menyumbang sedikit oksigen di kawasan industri IMIP, khususnya Bahodopi,” ungkapnya.
Kemampuan Meidi memadukan latar belakang keilmuan dan keahlian pemasaran digital menjadi kunci suksesnya. Ketelitian analis kimia menjadi modal budidaya, sementara media sosial menjadi panggung pemasaran.
“Saya harus bikin konten biar orang tahu kalau saya jual selada,” tutupnya tersenyum.













