Di Balik Tembok Industri PT IMIP, UMKM Menjadi Penyangga Ekonomi Warga Bahodopi
Sebarkan artikel ini
Dua pengunjung bersantai seusai minum kopi di kedai Solusi Kopie Desa Keurea, Kecamatan Bahodopi, Kabupaten Morowali. Dok: Solusi Kopie
DERU mesin pengolahan nikel yang meraung tanpa henti perlahan tersamar oleh riuh langkah kaki. Ribuan buruh pabrik mengalir keluar kawasan, menanggalkan seragam proyek mereka yang tersapu debu industri.
Wajah-wajah lelah itu melangkah menuju sudut-sudut jalan yang mulai temaram, tempat lampu-lampu kedai yang mulai dinyalakan satu per satu.
Kecamatan Bahodopi di Kabupaten Morowali, Provinsi Sulawesi Tengah tak lagi sekadar lanskap tambang yang gersang dan bising.
Kini, di antara kepulan asap pabrik yang membumbung ke udara, aroma pekat biji kopi giling menyeruak lembut. Mengangkut kehangatan di tengah hiruk-pikuk kota buruh.
Menyeruput kopi kini telah bertransformasi menjadi ritual harian dan gaya hidup baru bagi warga lokal maupun para pekerja perantauan.
“Di sini, kopi bukan lagi sekadar untuk menghilangkan rasa ngantuk setelah seharian bekerja, tapi sudah menjadi bagian dari kehidupan pekerja. Dengan meminum kopi, kami percaya energi tubuh itu bertambah,” aku salah satu pekerja, Ardiansyah kepada Eranesia.id di Desa Keurea, Kamis (23/7/2026).
Hadirnya PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) di Kabupaten Morowali membawa efek demino yang begitu nyata.
Gelombang puluhan ribu pekerja dari pelbagai penjuru Indonesia tak hanya membawa tenaga, tetapi juga perut yang perlu diisi dan dahaga yang butuh dipuaskan. Kecamatan Bahodopi pun secara ajaib tersulap menjadi ladang bisnis kuliner yang sangat subur.
Dinamika ini tercatat jelas dalam potret riset Tim Survey and Research Departemen Secretariat and General Affair (SGA) PT IMIP.
Di mana, data 2021, tercatat ada 4.697 unit Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Angka ini melonjak tajam hingga menyentuh 7.643 UMKM pada Maret 2025.
Meski secara kuantitas jumlah unit usaha sedikit terkoreksi menjadi 7.190 UMKM pada April 2026, kapasitasnya justru kian solid.
Sektor usaha mikro ini mampu menyerap 17.080 tenaga kerja, membuktikan bahwa bisnis lokal yang bertahan kini semakin matang dan ekspansif di Bahodopi.
Dari deretan data tersebut, sektor kuliner berdiri gagah sebagai “raja” di peta ekonomi kerakyatan Kecamatan Bahodopi. Dengan total 2.107 unit usaha, sektor ini menguasai sekitar 26 persen dari seluruh denyut UMKM di kawasan tersebut.
Di dalamnya, terdapat setidaknya 111 kafe dan restoran yang tak pernah sepi. Saban hari, terutama menjelang pergantian shift kerja tempat-tempat ini riuh oleh gelak tawa, denting cangkir, serta obrolan hangat antara warga lokal dan para buruh pabrik.
Eksistensi kawasan industri PT IMIP nyatanya tak hanya memberi penghidupan bagi mereka yang berada di dalam pagar fabrikasi. Di luar sana, gerobak-gerobak makanan, kedai kopi sederhana, hingga restoran modern justru tumbuh subur, menjelma menjadi penyangga ekonomi yang menghidupi belasan ribu kepala.
Kecamatan Bahodopi telah membuktikan, di balik kerasnya bongkahan nikel, ada denyut hangat ekonomi warga yang terus menyala.
Pekerjakan 10 Anak Muda, Omzet Ratusan Juta
Pemilik Solusi Kopie Moh Ahdiat (kiri) bersiap meracik kopi untuk pelanggan di kedai Solusi Kopie Desa Keurea, Kecamatan Bahodopi, Kabupaten Morowali. Dok: PT IMIP
Awal Juni 2026 lalu, angin sore di Desa Keurea, Kecamatan Bahodopi, membawa aroma sangrai biji kopi yang pekat. Di balik meja bar Solusi Kopie, Moh Ahdiat sibuk meracik espresso.
Senyum pria 27 tahun itu terkembang menyapa para pelanggan yang mulai berdatangan. Sebagian besar masih mengenakan pakaian kerja khas area tambang.
Lima tahun lalu, tepatnya medio 2021, Ahdiat berdiri di persimpangan jalan kehidupan. Berijazah sarjana di tangan, pemuda asli Kabupaten Morowali tersebut sempat bimbang ikut berdesakan mendaftar kerja di PT IMIP, atau nekat merintis jalannya sendiri.
Pilihan jatuh pada keberanian. Bermodal pengalaman paruh waktu di warung kopi kecil, Ahdiat memilih menyeduh nasibnya sendiri.
“Sebelumnya saya pernah kerja di kedai kopi, adalah pengalaman sedikit,” kenang Ahdiat di Desa Keurea, Sabtu (13/6/2026).
Jalan yang ditempuhnya tak serta-merta mulus. Namun, intuisi bisnisnya terbukti tajam. Kini, Solusi Kopie tumbuh menjelma menjadi salah satu sanctuary paling populer di Kecamatan Bahodopi.
Tak kurang dari 80 persen pelanggannya adalah para pekerja kawasan PT IMIP yang berburu ketenangan selepas jam dinas.
Melonjaknya jumlah penduduk produktif di lingkar tambang yang diimbangi daya beli tinggi menjadi angin segar bagi Ahdiat. Sepanjang periode Juni 2025 hingga Juni 2026, Solusi Kopie mencatatkan omzet yang fantastis Rp120 juta hingga Rp150 juta per bulan.
Kue manis pertumbuhan ekonomi ini tak dinikmatinya sendirian. Ahdiat kini mempekerjakan 10 orang anak muda lokal sebagai barista, pelayan, kasir, hingga staf dapur.
Uniknya, di tengah tingginya rotasi pekerja di daerah industri, Solusi Kopie justru memiliki tingkat pergantian karyawan yang sangat rendah. Rahasia Ahdiat terletak pada humanisme dan investasi keterampilan.
“Dalam bisnis, penting membentuk budaya kerja. Itu nantinya akan membentuk suatu sistem yang baik,” tegas Ahdiat.
Peluang emas manisnya bisnis seduhan biji hitam ini juga ditangkap cermat oleh Selvina Astuti, seorang karyawan salah satu tenant di kawasan IMIP. Pada Agustus 2024, ia meretas keberanian mendirikan Musti Coffee.
Mengusung konsep coffee shop modern yang estetik dan adaptif terhadap selera anak muda, Musti Coffee melejit kilat.
“Pada enam bulan awal usaha, omzet harian kami berkisar Rp500 ribu hingga Rp700 ribu,” cerita Selvina, terpisah.
Namun kini, angka itu melompat drastis. Musti Coffee meraup pendapatan kotor Rp2,5 juta hingga Rp3 juta per hari alias mengantongi Rp75 juta hingga Rp90 juta setiap bulannya.
Dapur Musti Coffee kini menghidupi empat pekerja. Tak berhenti di situ, roda bisnis Selvina turut menggerakkan rantai pasok lintas pulau.
Biji kopi pilihan, sirup racikan, hingga kemasan ramah lingkungan ia datangkan langsung dari simpul-simpul logistik di Kota Makassar, Sulawesi Selatan dan Kota Kendari, Sulawesi Tenggara.
Persaingan kedai kopi di Kecamatan Bahodopi kini memang kian menjamur, namun Selvina tak sedikit pun gentar. Baginya, menjamurnya kafe baru bukanlah ancaman, melainkan tanda bahwa ekosistem ekonomi kreatif di tanah nikel ini sedang tumbuh sehat.
“Semakin banyak kafe justru semakin beragam pilihan bagi konsumen. Ini membuat saya terus berinovasi. Karena setiap kafe punya karakter, signature, konsep, dan target audiens sendiri,” tutur Selvina optimistis.
Kisah Solusi Kopie dan Musti Coffee adalah bukti sahih betapa hadirnya megaindustri tak hanya menyerap tenaga kerja di dalam tembok pabrik. Di luar sana, keberadaan para buruh melahirkan pasar riil yang memacu lahirnya wirausahawan baru.
Dari tiap tegukan kopi hangat yang dinikmati para pekerja selepas menggantung seragam berdebu, lahir denyut nadi ekonomi warga sebuah bukti bahwa di balik kerasnya bongkahan nikel Kabupaten Morowali, ada kesejahteraan yang menyeduh hangat kehidupan masyarakatnya.
Sejumlah pekerja berjalan di kawasan industri nikel PT IMIP di Kecamatan Bahodopi, Kabupaten Morowali. Dok: PT IMIP
Pekerja PT IMIP Tembus 97.427 orang
Tingginya penghasilan UMKM khususnya kedai kopi di Kecamatan Bahodopi tidak terlepas dari kehadiran tenaga kerja PT IMIP yang terus bertambah.
Pada tahun 2023, karyawan di kawasan PT IMIP berjumlah 74.350 orang, meningkat menjadi 83.000 orang di tahun 2024, dan bertambah lagi menjadi 89.849 orang pada akhir Januari 2026.
Pertumbuhan tenaga kerja tersebut berjalan seiring dengan ekspansi investasi, peningkatan kapasitas produksi, dan masuknya proyek-proyek industri baru.
Data terbaru yang diterima dari Departemen HR PT IMIP per Juli 2026 mencatat, jumlah tenaga kerja aktif di PT IMIP mencapai 97.427 orang, terdiri atas 89.335 karyawan laki-laki dan 8.092 karyawan perempuan.
Jumlah itu belum termasuk sekitar 20.000 tenaga kerja alih daya yang bekerja di pelbagai perusahaan kontraktor dan jasa pendukung operasional kawasan. Angka ini meningkat tajam dibandingkan lima tahun sebelumnya yang masih berada pada kisaran 35.592 orang pada tahun 2020.
“Pertumbuhan industri di Morowali, khususnya di PT IMIP, menorehkan perkembangan ketenagakerjaan secara signifikan di Sulawesi Tengah. Dari Juni 2025 ke Juli 2026, serapan tenaga kerja naik 13,53 persen,” ungkap Direktur Komunikasi PT IMIP, Emilia Bassar melalui pernyataan resminya, Sabtu (18/7/2026).
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan jumlah angkatan kerja formal di Sulawesi Tengah meningkat konsisten dalam tiga tahun terakhir, dari 477,2 ribu orang pada Agustus 2023 menjadi 500,1 ribu (2024), lalu meningkat kembali menjadi 525,8 ribu orang (Agustus 2025). Tren ini memperlihatkan kontribusi sektor formal kian besar terhadap struktur ketenagakerjaan di provinsi tersebut.
PT IMIP terus memperkuat peran sebagai salah satu penggerak utama transformasi ketenagakerjaan di Sulawesi Tengah. Tidak hanya menjadi pusat pertumbuhan industri pengolahan nasional, PT IMIP pun berkembang sebagai ekosistem pencipta lapangan kerja yang mendorong peningkatan ekonomi masyarakat lokal Sulawesi Tengah.
Emilia mengatakan, keberadaan industri pengolahan menjadi faktor penting dalam pergeseran pola ketenagakerjaan di Sulawesi Tengah, yang dahulu lebih banyak ditopang sektor pertanian dan perikanan.
Emilia menambahkan, kontribusi tenaga kerja PT IMIP terhadap total penduduk bekerja dengan status buruh atau karyawan di Sulawesi Tengah diketahui berkisar 1,23 persen pada 2023, lalu meningkat jadi 1,74 persen (2024), dan 1,3 persen (2025).
Dokumen BPS Indikator Ketenagakerjaan Sulawesi Tengah 2025 juga menyebutkan, angka ini menempatkan kawasan PT IMIP sebagai salah satu kontributor utama pertumbuhan lapangan kerja formal di Sulawesi Tengah.
Geliat sektor industri pengolahan yang berkembang di kawasan PT IMIP pun tercatat sebagai lapangan usaha dengan pertumbuhan tertinggi di Sulawesi Tengah, yakni 15,09 persen pada triwulan I 2026.
“Pada periode sama, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Sulawesi Tengah atas dasar harga berlaku mencapai Rp110,27 triliun, sementara PDRB per kapita Kabupaten Morowali menembus Rp1,3 miliar pada 2024,” tegas Emilia.
Kawasan industri nikel PT IMIP di Kecamatan Bahodopi, Kabupaten Morowali. Dok: PT IMIP
Apresiasi Pemerintah
Keberadaan PT IMIP di Kabupaten Morowali terus mendulang pujian. Tak hanya menjadi magnet perekonomian daerah, raksasa industri nikel ini terbukti sukses menggerakkan roda perekonomian masyarakat secara signifikan melalui penciptaan lapangan kerja secara masif.
Apresiasi pun mengalir dari Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah. Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans), Muh Syahrul Syam, menegaskan bahwa kehadiran PT IMIP telah membawa perubahan peta ketenagakerjaan yang luar biasa di wilayah tersebut.
Menurut Syahrul, daya tarik PT IMIP sebagai salah satu pusat pertumbuhan ekonomi baru telah membuat puluhan ribu pencari kerja dari pelbagai penjuru tanah air berbondong-bondong datang untuk mengadu nasib dan mengais rezeki.
Namun, dampak positif kawasan industri ini ternyata tidak berhenti di dalam pagar pabrik saja.
Dampak paling signifikan dari geliat industri nikel ini adalah terciptanya domino effect yang menghidupkan sektor UMKM di wilayah penyangga, khususnya Kecamatan Bahodopi.
“Pekerja UMKM di Bahodopi saat ini mencapai 17 ribu pekerja lebih. Itu capaian yang luar biasa akibat adanya PT IMIP. Lapangan pekerjaan benar-benar terbuka, bukan hanya di kawasan PT IMIP, namun juga di luar IMIP,” ungkap Syahrul di Palu, Rabu (22/7/2026).
Kehadiran PT IMIP membuktikan bahwa hilirisasi industri tidak hanya menguntungkan skala besar, tetapi juga memberi “piring nasi” bagi ribuan masyarakat lokal dan pendatang yang bergerak di sektor informal.
Tantangan pemerintah daerah ke depan adalah menjaga agar ekosistem pertumbuhan ekonomi ini tetap inklusif, aman, dan berkelanjutan bagi semua pihak.