TIDUR seharian saat berpuasa di bulan Ramadan kerap menjadi “jalan pintas” untuk menghindari rasa lapar dan haus.
Dengan lebih banyak terlelap sejak Subuh hingga menjelang Magrib, sebagian orang berharap waktu puasa terasa lebih singkat.
Lalu, bagaimana hukumnya dalam Islam? Apakah puasa tetap sah jika seseorang menghabiskan hampir seluruh waktu siangnya untuk tidur?
KH Wahyul Afif Al-Ghafiqi menegaskan, tidur seharian saat berpuasa tidak membatalkan puasa.
“Puasanya tetap sah walaupun dia tidur seharian,” jelasnya, dikutip dari CNN Indonesia, Senin (23/2/2026).
Namun, ia mengingatkan bahwa persoalan muncul ketika seseorang sengaja tidur hingga meninggalkan kewajiban salat.
“Kalau dia tidur sampai tidak salat Dzuhur dan Asar, lalu bangun saat berbuka dan itu disengaja, ini yang jadi persoalan,” ujar Wahyul.
Umat Islam tetap wajib melaksanakan salat lima waktu, termasuk selama Ramadan. Jika seseorang tertidur tanpa sengaja hingga melewatkan waktu salat, ia harus segera mengqadanya saat bangun.
Berbeda halnya jika seseorang sengaja tidur untuk menghindari kewajiban salat.
“Untuk urusan salat, jangan disengaja lupa dan jangan disengaja tidur,” tegas Wahyul.
Islam memberikan keringanan (rukhsah) kepada orang yang lupa atau tertidur tanpa sengaja. Namun, seseorang tidak boleh menjadikan tidur sebagai alasan untuk meninggalkan ibadah.
Ramadan Bukan Sekadar Menahan Lapar
Ramadan tidak hanya mengajarkan umat Islam menahan lapar dan haus. Umat Islam menjadikan bulan suci ini sebagai momentum untuk memperbanyak amal, memperdalam ilmu agama, serta mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Jika seseorang menghabiskan lebih banyak waktu untuk tidur, ia akan kehilangan banyak kesempatan berharga. Padahal, Ramadan hadir hanya sekali dalam setahun.
Wahyul mengingatkan umat Islam agar tidak menyia-nyiakan bulan penuh berkah ini.
“Rugi orang yang tidak mendapatkan Ramadan. Tapi ada yang lebih rugi lagi, yaitu orang yang bertemu Ramadan namun melewatkannya tanpa nilai ibadah dan tanpa meningkatkan ketakwaan kepada Allah,” tuturnya.
Artinya, meskipun tidur tidak membatalkan puasa, kebiasaan itu tetap bisa menghilangkan esensi Ramadan.
Sebaiknya, umat Islam mengisi waktu siang Ramadan dengan berbagai aktivitas bermanfaat, seperti bekerja, belajar, membaca Al-Qur’an, bersedekah, memperbanyak zikir, dan berdoa.
Tubuh memang membutuhkan tidur. Namun, seseorang tidak boleh menjadikannya pelarian agar puasa terasa cepat berlalu.
“Ramadan adalah latihan spiritual. Menahan diri dari makan dan minum hanya menjadi satu bagian kecil dari proses membentuk kesabaran, keikhlasan, dan ketakwaan,” kata Wahyul.
Pada akhirnya, Ramadan tidak sekadar menahan lapar dan haus, tetapi juga melatih setiap Muslim menjadi pribadi yang lebih tenang, bijak, dan bertakwa dalam menjalani ibadah.
Sumber : CNN Indonesia | Editor : Muh Taufan














