Gaya HidupNasional

Omnibus Mortemus Hadirkan Lima Film tentang Kematian dan Realitas Sosial

×

Omnibus Mortemus Hadirkan Lima Film tentang Kematian dan Realitas Sosial

Sebarkan artikel ini
Panitia membagi pemutaran film menjadi dua sesi. Sesi pertama berupa premiere dan media screening pada pukul 17.00 WIB. Sementara sesi kedua berupa pemutaran publik pada pukul 19.00 WIB. Dok: MondiBlanc Film Workshop/Eranesia.id

KOLEKTIF film MondiBlanc Film Workshop siap menggelar pemutaran perdana terbatas (limited premiere) proyek antologi bertajuk “Omnibus Mortemus” Sabtu (16/5/2026). Acara tersebut akan berlangsung di Griya Tapa, Jakarta Selatan.

Pemutaran itu menjadi ruang presentasi bagi lima karya film yang lahir dari semangat kolaborasi, pembelajaran otodidak, dan kegelisahan atas berbagai realitas sosial di Indonesia.

“Omnibus Mortemus” menghadirkan empat film fiksi dan satu film dokumenter dengan tema besar tentang kematian. Setiap film mengusung pendekatan genre yang berbeda, mulai dari drama distopia hingga komedi satir.

Film pertama berjudul “Jakarta Sunless” karya sutradara Harashta. Film drama fiksi sains distopia itu menyoroti keserakahan manusia di tengah bencana ekologis.

Harashta menggabungkan teknik eksperimental berupa tarian dan visual malam hari untuk menggambarkan perjuangan seorang penjual sayur hidroponik demi kesembuhan adiknya.

Film kedua, “Saksi Kunci” garapan Greg Kohar, mengangkat isu pelanggaran hak asasi manusia (HAM). Film neo-noir hitam-putih tersebut menghadirkan soundtrack dari band Efek Rumah Kaca dan mengajak penonton mengingat kembali para aktivis yang hilang.

Sementara itu, sutradara Sachri Fadillah menghadirkan film “Bapak-Bapak Tidak Bercerita” dengan nuansa komedi. Film tersebut dibintangi Tenno Ali dan Devi Kinal Putri. Sachri menggunakan gaya visual sinetron lawas dan teknik breaking the fourth wall untuk membedah konflik warisan secara jenaka.

Film itu juga menjadi debut produserial aktor Akbarry Noor. Selain itu, Mutiarachmi mengisi soundtrack, sedangkan Wisnu Ikhsantama yang pernah masuk nominasi AMI Awards ke-29 menggarap scoring film tersebut.

Film berikutnya, “Suara Ayah” karya Rifki Taufik, mengangkat isu fatherless dan materialisme. Produser perempuan Zalfadina Putri menghadirkan sudut pandang tentang kasih sayang dalam berbagai bentuk melalui drama hangat tersebut.

Sementara itu, “Cinta Amatiran” garapan Ibara Baiano tampil sebagai film dokumenter. Film ini merekam perjuangan praktisi film non-sekolah film dalam menembus industri sinema Indonesia.

Dokumenter tersebut juga memperlihatkan proses produksi workshop dengan berbagai keterbatasan dan kreativitas para pembuatnya.

Dukungan

Produksi “Omnibus Mortemus” mendapat dukungan dari sejumlah pelaku industri film, seperti BSM Rental, Kokkino, dan Aenigma Pictures.

Salah satu Eksekutif Produser MondiBlanc Film Workshop, Nosa Normanda mengatakan, kolaborasi tersebut menjadi bukti pentingnya kepercayaan dalam pengembangan talenta baru di industri film.

“Produksi ini menjadi bukti bahwa trust yang kami bangun selama satu dekade bersama para partner mampu menghasilkan karya berkualitas tinggi, meski dikerjakan oleh talenta yang sedang bertumbuh,” ujar Nosa dalam siaran pers yang Eranesia.id terima, Jumat (15/5/2026).

Panitia membagi pemutaran film menjadi dua sesi. Sesi pertama berupa premiere dan media screening pada pukul 17.00 WIB. Sementara sesi kedua berupa pemutaran publik pada pukul 19.00 WIB.

MondiBlanc Film Workshop merupakan yayasan dan wadah pendidikan film alternatif. Komunitas tersebut berfokus membangun ekosistem sinema yang inklusif, non-toksik, dan berbasis pengembangan pengetahuan bersama.

Rilis | Editor : Muh Taufan