HeadlineNasional

Iran Tutup Selat Hormuz, Mentan Pastikan Produksi Pangan Nasional Aman

×

Iran Tutup Selat Hormuz, Mentan Pastikan Produksi Pangan Nasional Aman

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi pedagang menunggu pembeli beras di Pasar Tradisional Masomba, Palu, Sulawesi Tengah, Selasa (2/9/2024). Foto: Taufan Bustan/Eranesia.id

MENTERI Pertanian (Mentan) Republik Indonesia, Andi Amran Sulaiman menegaskan ketahanan pangan nasional sudah tersusun jauh sebelum konflik geopolitik global memanas. Pemerintah merancang berbagai skenario menghadapi kemungkinan terburuk sejak awal pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Amran menyebut pemerintah telah mengantisipasi beragam risiko terhadap sektor pertanian. Mulai dari konflik geopolitik, fenomena iklim ekstrem seperti El Nino dan La Nina, hingga gangguan rantai pasok global.

“Kita sudah perhitungkan semua itu. Bapak Presiden sudah siapkan sejak beliau dilantik. Makanya kita tenang-tenang saja. Pertanian Insya Allah kokoh,” terangnya dikutip dari CNN Indonesia, Sabtu (7/3/2026).

Amran menyebutkan, konflik global tidak akan langsung mengganggu produksi pangan dalam negeri. Produksi pertanian Indonesia, menurutnya, tetap bertumpu pada kekuatan domestik.

“Oh enggak, produksi pangan nasional tidak akan terdampak situasi geopolitik global. Aku yang jamin,” ujarnya.

Strategi antisipasi itu mencakup penguatan infrastruktur irigasi, penyediaan bibit unggul, modernisasi alat dan mesin pertanian, serta program mitigasi kekeringan akibat El Nino

“Persiapannya bukan sekarang. Sejak Bapak Presiden dilantik, kami sudah diperintahkan mempersiapkan semuanya. Ini sudah berjalan, sudah on track,” ungkap Amran.

Selat Hormuz

Kekhawatiran Amran bukan tanpa konteks. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah meningkat tajam setelah Iran menutup Selat Hormuz, menyusul serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Teheran pada akhir Februari.

Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran paling vital di dunia. Jalur yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab ini melayani lebih dari 30 ribu kapal setiap tahun dan mengangkut sekitar 11 persen perdagangan laut global.

Selain minyak dan gas, jalur ini juga menjadi urat nadi distribusi pupuk, logam industri, dan berbagai barang konsumsi. 

Lebih dari 30 persen ekspor pupuk nitrogen dunia, termasuk urea, berasal dari negara-negara Teluk dan melewati jalur tersebut. Gangguan distribusi pupuk berpotensi mendongkrak biaya produksi pertanian di banyak negara.

Pangan Nasional

Selat Hormuz juga krusial bagi distribusi pangan global, terutama bagi negara-negara Timur Tengah yang sangat bergantung pada impor. Qatar, misalnya, mengimpor lebih dari 90 persen kebutuhan pangannya dari luar negeri.

Gangguan pelayaran di kawasan ini berpotensi menghambat distribusi pangan. Produk dengan kontainer berpendingin seperti daging dan buah-buahan berisiko rusak jika kapal tertahan terlalu lama di laut.

Sejumlah analis memperingatkan konflik yang berlanjut dapat mendorong biaya logistik global, memperpanjang waktu pengiriman, dan memicu kenaikan harga pangan di berbagai negara. 

Kondisi inilah yang memunculkan kekhawatiran akan potensi krisis pangan global.

Sumber : CNN Indonesia | Editor : Muh Taufan