Regional

Zainal Abidin: Ikuti Nilai Ajaran Nabi, Sesuaikan Cara dengan Zaman

×

Zainal Abidin: Ikuti Nilai Ajaran Nabi, Sesuaikan Cara dengan Zaman

Sebarkan artikel ini
Ketua MUI Kota Palu, Profesor Dr KH Zainal Abidin MAg. Dok: HO/Eranesia.id

KETUA Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Palu, Profesor Dr KH Zainal Abidin MAg, menyampaikan pencerahan penting tentang metodologi meneladani Rasulullah SAW di era modern.

Ia menekankan, perlunya umat Islam membedakan antara tindakan Nabi yang bersifat situasional dan ajaran beliau yang bersifat universal.

Dalam pernyataannya, Zainal mengingatkan bahwa umat tidak cukup meneladani Rasulullah dengan meniru tindakan lahiriah, tetapi harus memahami nilai dan pesan di baliknya.

“Kita tidak hanya mengikuti contoh dari Nabi, tetapi harus mengikuti ajaran Nabi. Ajarannya bersifat universal, sementara contoh Nabi ada yang tidak dapat kita ikuti,” tegas Rais Syuriyah PBNU tersebut di Kota Palu, Sabtu (11/4/2026).

Zainal menjelaskan, bahwa setiap tindakan Nabi mengandung pesan mendalam yang menjadi pedoman hidup umat. Namun, umat tidak bisa menerapkan semua contoh itu secara literal karena sebagian bersifat kontekstual sesuai situasi dan kondisi pada masa itu.

Sebagai ilustrasi, Ketua FKUB Sulteng itu mengangkat sebuah riwayat ketika Rasulullah SAW melewati pemakaman dan mengetahui adanya penghuni kubur yang sedang mengalami siksa.

Nabi kemudian mengambil pelepah kurma yang masih basah dan menancapkannya di atas kubur itu, seraya berharap Allah meringankan azabnya selama pelepah tersebut tetap hijau.

Menurutnya, tindakan menancapkan pelepah kurma bukan inti ajaran yang harus umat ikuti. Peristiwa itu mengandung anjuran agar umat mendoakan orang yang telah meninggal supaya Allah meringankan bebannya.

“Yang paling esensial adalah ajaran yang ingin disampaikan, yakni perintah bagi kita yang masih hidup untuk mendoakan penghuni kubur. Itulah nilai universalnya,” jelas Zainal.

Lebih lanjut, Guru Besar UIN Datokarama Palu itu mencontohkan penerapan ajaran Nabi dalam konteks sosial yang berbeda. Pada masa Rasulullah, masyarakat membiarkan unta berkeliaran karena kondisi keamanan terjaga dan pemiliknya mudah dikenali.

Namun, pada masa Khalifah Usman bin Affan, pemerintah menangkap dan mengamankan unta-unta liar karena risiko pencurian meningkat.

Dari sini terlihat perbedaan antara “contoh” dan “ajaran”. Nabi memberi contoh membiarkan unta dalam situasi aman, sementara ajarannya menekankan pentingnya menjaga keamanan harta. Khalifah Usman menerapkan ajaran itu dengan cara berbeda sesuai tantangan zamannya.

Zainal pun mengajak umat Islam untuk tidak terjebak pada simbol-simbol lahiriah semata, melainkan menggali esensi dari setiap tindakan Rasulullah SAW.

Menurutnya, pemahaman terhadap ajaran yang bersifat universal dan adaptif akan membuat Islam tetap relevan dalam menghadapi perubahan zaman.

“Ajarannya bersifat universal, yaitu menjaga ketertiban dan hak orang lain. Sementara contoh pelaksanaannya bersifat adaptif mengikuti kondisi sosial,” pungkasnya.

Rilis | Editor : Muh Taufan