KANTOR Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Sulawesi Tengah bersama Tim Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah (TP2DD) Kota Palu terus memperkuat penggunaan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS). Upaya ini dilakukan untuk mendorong transaksi digital di masyarakat.
Hingga akhir 2025, transaksi QRIS di Palu mencapai 37.380.000 transaksi. Jumlah merchant tercatat sekitar 101 ribu.
Capaian tersebut membuat Palu masih mendominasi transaksi QRIS di Sulawesi Tengah. Kontribusinya mencapai 43 persen.
Deputi Kepala KPwBI Sulteng, Glenn Nathaniel Pandelaki mengatakan, penggunaan QRIS terus didorong di pelbagai sektor. QRIS dinilai sebagai metode pembayaran yang mudah dan praktis.
“Salah satu rekomendasi dari Pemerintah Kota Palu yang kami dukung adalah pengembangan QRIS. Saat ini kami juga mengembangkan QRIS Tap,” ujarnya kepada sejumlah jurnalis di Palu, Rabu (29/4/2026).
Menurut Glenn, QRIS Tap memudahkan proses pembayaran. Masyarakat tidak lagi perlu login di ponsel seperti sebelumnya.
“Sekarang cukup dengan tap untuk melakukan pembayaran,” jelasnya.
KPwBI bersama Pemkot Palu juga mendorong penggunaan QRIS Tap di sektor perdagangan. Salah satu program yang disiapkan adalah uji coba pasar digital di Pasar Tavanjuka.
Selain perdagangan, pengembangan QRIS Tap juga diarahkan ke sektor transportasi. Langkah ini bertujuan mempermudah layanan pembayaran bagi masyarakat.
“Saat ini di Pulau Sulawesi baru ada di Makassar dan Trans Donggala. Untuk Kota Palu sendiri masih dalam tahap pengembangan,” tandas Glenn.
KPwBI berharap implementasi QRIS Tap di sektor transportasi Kota Palu dapat segera terealisasi tahun ini. Langkah tersebut diharapkan meningkatkan pelayanan publik sekaligus mendongkrak pendapatan asli daerah.
Penulis : Rusdia | Editor : Muh Taufan













