Feature

Menebar Pesan Damai Lewat 10.000 Paket Makanan

×

Menebar Pesan Damai Lewat 10.000 Paket Makanan

Sebarkan artikel ini
Pagi itu, Vatulemo menjelma menjadi ruang perjumpaan. Bukan sekadar arena seremonial, melainkan panggung besar tempat kemanusiaan berbicara dalam bahasa paling sederhana berbagi. Dok: FKUB Sulteng/Eranesia.id

MINGGU (31/5/2026), Lapangan Vatulemo di jantung Kota Palu menghadirkan pemandangan berbeda. Sejak matahari meninggi, ribuan orang memadati lapangan. Anak-anak panti asuhan duduk di antara deretan kursi dan tenda yang tertata rapi dengan wajah penuh antusias.

Sebagian melempar senyum, sebagian lain menatap penasaran tumpukan paket makanan di hadapan mereka. Riuh suara anak-anak berpadu dengan sapaan hangat para tokoh lintas agama.

Pagi itu, Vatulemo berubah menjadi ruang perjumpaan. Lapangan itu bukan sekadar arena seremonial, tetapi panggung besar yang menghadirkan bahasa kemanusiaan paling sederhana, berbagi.

Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Sulawesi Tengah (Sulteng) bersama Badan Musyawarah Antar Gereja (Bamag) Sulteng menggelar aksi sosial dengan membagikan 10.000 paket makanan siap saji kepada anak-anak panti asuhan dan masyarakat prasejahtera.

Ketua FKUB Sulteng Profesor Zainal Abidin, Wali Kota Palu Hadianto Rasyid bersama istri, Ketua TP PKK Kota Palu Diah Puspita, Ketua Panitia Hendrik G Lyanto, dan Ketua Bamag Sulteng Lukky Semen ikut hadir di tengah suasana hangat itu.

Pesan Persaudaran

Aksi sosial itu tidak berhenti di Lapangan Vatulemo. Para relawan bergerak menyusuri jalan-jalan kota dan mengantar ribuan paket makanan ke pelbagai panti asuhan di Kota Palu hingga wilayah kabupaten sekitar. Mereka membawa bukan hanya makanan, tetapi juga pesan persaudaraan.

Bagi Zainal Abidin, inilah wajah agama yang sesungguhnya.

“Agama tidak boleh berhenti di ruang-ruang ibadah. Ia harus hadir di tengah masyarakat dan menjawab persoalan kemanusiaan yang nyata,” ujarnya.

Ia menjelaskan, seluruh pengurus FKUB dari pelbagai unsur agama turun langsung mendata panti asuhan lintas iman agar bantuan menjangkau semua pihak secara adil.

Menurutnya, langkah itu memuat pesan moral yang kuat.

“Rasa lapar tidak memiliki agama, dan air mata kesusahan rasanya sama. Ketika kita berbagi tanpa memandang keyakinan, kita sedang menegaskan bahwa kemanusiaan adalah bahasa bersama,” ungkap Zainal.

Pemandangan yang Menyejukkan

Di tengah derasnya kabar konflik atas nama perbedaan, Palu menghadirkan pemandangan yang menyejukkan. Kota ini menunjukkan bahwa kerukunan bukan sekadar slogan di spanduk, melainkan tindakan nyata yang bisa disentuh dan dirasakan.

Ketua Panitia Hendrik G Lyanto, yang akrab disapa Koh Aceo, menyebut gerakan itu lahir dari panggilan hati.

Ia menegaskan, jajaran Bamag Sulteng ingin meringankan beban masyarakat yang menghadapi tekanan ekonomi.

“Kami ingin menjangkau mereka yang benar-benar membutuhkan, terutama anak-anak panti asuhan, para pengasuh, dan masyarakat kurang mampu. Kami berharap gerakan ini memantik gelombang kebaikan lain di Sulawesi Tengah,” ujarnya.

Wali Kota Palu Hadianto Rasyid bersama jajaran pemerintah kota ikut memperkuat pesan kolaborasi itu.

Tawa anak-anak panti lintas iman memenuhi lapangan. Mereka bercengkerama tanpa sekat, tanpa batas identitas. Mereka menghadirkan satu pesan sederhana: persaudaraan selalu menemukan jalannya.

Pagi itu, Vatulemo bukan hanya menjadi tempat pembagian 10.000 paket makanan.

Lapangan itu menegaskan bahwa kerukunan di Kota Palu hidup dalam tindakan nyata. Kerukunan tumbuh dari tangan-tangan yang memberi dan kepedulian yang hadir tanpa syarat.

Dari sudut kecil Sulawesi Tengah, Palu mengirimkan pesan yang melangit: perdamaian tidak selalu hadir lewat pidato panjang. Kadang, ia datang melalui sebungkus makanan yang dibagikan dengan tulus.