KENAIKAN harga kedelai impor mulai menekan pelaku usaha tahu di Kota Palu, Sulawesi Tengah. Meski biaya bahan baku terus meningkat dalam beberapa pekan terakhir, para pengusaha masih mempertahankan harga jual untuk menjaga daya beli masyarakat.
Pemilik pabrik tahu Ubfarm, Sutran Indah Haryono mengatakan, harga kedelai mulai naik sejak Mei 2026 dan hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda penurunan.
“Biasanya naik sebentar, seminggu naik terus turun. Ini sudah hampir tiga pekan, bahkan masuk pekan keempat tidak ada penurunan,” ujarnya saat ditemui Eranesia.id, Jumat (5/6/2026).
Menurut Sutran, harga kedelai impor yang menjadi bahan baku utama produksi tahu meningkat dari sekitar Rp11.000 menjadi Rp12.500 per kilogram. Kenaikan tersebut menambah beban biaya produksi yang harus ditanggung pelaku usaha.
Sutran menjelaskan, industri tahu di Palu masih bergantung pada pasokan kedelai dari luar daerah, terutama Surabaya dan Jakarta. Sementara itu, ketersediaan kedelai lokal masih sangat terbatas.
“Kalau impor itu tetap dari Surabaya, Jakarta biasanya. Karena lokal tidak ada,” katanya.
Meski menghadapi kenaikan biaya produksi, pengusaha tahu di Palu belum berencana menaikkan harga jual. Mereka memilih bertahan sambil memantau perkembangan harga kedelai di pasaran.
“Untuk saat ini strateginya belum ada. Karena kita ini pengusaha tahu banyak, sebenarnya kalau kompak harus naik ya naik. Tapi untuk saat ini belum ada, bertahan saja dulu,” ungkapnya.
Hingga kini, harga tahu masih bertahan di level normal, yakni Rp120 ribu per loyang.
Sutran menilai kenaikan harga kedelai dipengaruhi sejumlah faktor, baik global maupun nasional. Salah satunya pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang berdampak pada harga komoditas impor.
Para pelaku usaha berharap harga kedelai segera stabil agar mereka tidak perlu menaikkan harga jual tahu.
Sampai awal Juni 2026, pengusaha tahu di Kota Palu masih memilih menanggung kenaikan biaya produksi demi menjaga harga tetap terjangkau bagi konsumen.













