Ekonomi

Anak Muda Terjebak Utang Demi Gaya Hidup, OJK Siapkan 3 Strategi Ini

×

Anak Muda Terjebak Utang Demi Gaya Hidup, OJK Siapkan 3 Strategi Ini

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Petugas berada di depan logo OJK di kantor OJK Sulteng, Jumat (9/5/2025). Foto: Taufan Bustan/Eranesia.id

OTORITAS Jasa Keuangan (OJK) menyoroti fenomena generasi muda yang terjebak lingkaran utang “gali lubang tutup lubang”. Banyak anak muda terjerat fenomena multi-borrowing (meminjam di banyak platform sekaligus) demi menyokong gaya hidup.

Menyikapi hal ini, Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen OJK, Dicky Kartikoyono, menyatakan OJK telah menyiapkan strategi komprehensif.

Langkah ini mencakup edukasi, pencegahan, hingga sinergi dengan industri yang terbagi dalam tiga pilar utama:

OJK memanfaatkan teknologi melalui Learning Management System (LMS) edukasi keuangan yang bisa diakses 24 jam. Lewat kanal ini, OJK mengedukasi anak muda mengenai prinsip kehati-hatian dan kapasitas membayar kembali (repayment capacity).

OJK juga memperkenalkan konsep Debt to Income Ratio atau batasan utang dibanding pendapatan.

“Rumusan amannya, porsi pembayaran utang itu maksimal 30 hingga 50 persen dari disposable income(pendapatan bersih siap pakai). Ini penting untuk menjaga kapasitas pembayaran,” ujar Dicky dikutip dari CNBCIndonesia.com, Sabtu (6/6/2026).

Strategi kedua berfokus pada pemanfaatan teknologi untuk memonitor keseluruhan eksposur utang masyarakat. OJK berkoordinasi dengan lintas lembaga agar fenomena multi-borrowing tidak terus terakumulasi dan membahayakan sistem keuangan.

Selain itu, OJK terus meningkatkan kualitas skor kredit di Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK). Namun, Dicky menyebut proses ini membutuhkan waktu karena memerlukan penguatan teknologi dan pengawasan yang matang.

OJK meminta pelaku industri jasa keuangan untuk memperketat manajemen risiko dan tidak asal memberikan pinjaman. Industri wajib menerapkan transparansi terkait bunga, biaya admin, hingga eksposur risiko kepada konsumen.

“Kondisi ekonomi saat ini menuntut manajemen risiko yang kuat. Pelaku industri harus melihat bahwa kapasitas membayar konsumen (repayment capacity) adalah pegangan utama untuk menjaga stabilitas,” pungkas Dicky.