MASYARAKAT sering kali mengaitkan pelbagai gejolak dan gesekan sosial dengan isu perselisihan antaragama. Padahal, akar persoalan sesungguhnya tidak bersumber dari perbedaan keyakinan.
Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Sulawesi Tengah, Profesor Zainal Abidin, menyoroti fenomena fanatisme kelompok yang kerap mengaburkan ajaran murni agama.
“Konflik terbesar bukan terjadi antaragama, melainkan saat manusia lebih mencintai tafsirnya daripada kebenaran. Manusia lebih mengagungkan identitas kelompoknya ketimbang sesama manusia. Saat itulah agama berubah dari cahaya menjadi senjata,” tegasnya dalam siaran pers yang Eranesia.id terima, Minggu (4/10/2026).
Guru Besar Pemikiran Islam Modern ini menilai, fanatisme buta mendorong seseorang atau kelompok terjebak dalam sikap salah kaprah.
Mereka yang mengagungkan tafsir tunggal merasa memegang hak prerogatif atas kebenaran, lalu mengesampingkan nilai kemanusiaan.
Saat ego kelompok mendominasi, ajaran agama yang sejatinya menjadi penerang dan pemersatu justru bergeser menjadi alat untuk melukai pihak lain. Sikap ini mengikis empati dan merusak tatanan kerukunan masyarakat yang majemuk.
Zainal menjelaskan, tidak ada satu pun ajaran agama yang menuntun pemeluknya menanam kebencian. Ketegangan sosial murni bersumber dari oknum yang membelokkan ajaran agama demi kekuasaan atau kebanggaan kelompok.
“Semua ajaran agama mengajarkan kebaikan. Jika seseorang atau kelompok meninggalkan prinsip itu, tindakan mereka bukan bersumber dari agama, melainkan cara pandang yang keliru dalam memahami ajaran agama,” pungkasnya.













