EkonomiFeature

Gurihnya Bisnis Kuliner di Balik Tembok IMIP

×

Gurihnya Bisnis Kuliner di Balik Tembok IMIP

Sebarkan artikel ini
Sejak merintis usaha pada Januari 2014, Mak Indah konsisten mempertahankan rasa, melimpahkan porsi, dan mematok harga yang terjangkau. Dok: PT IMIP

JARUM jam belum menyentuh angka empat pagi. Waktu sepertiga malam masih memaguri Bahodopi. Ruslan (40) sudah sibuk di dapur.

Ruslan bekerja bersama keluarga di Desa Keurea. Istri dan ibu mertuanya ikut membantu. Mereka menumbuk rempah pilihan untuk bubur ayam.

Puluhan ribu pekerja IMIP sangat menyukai bubur Ruslan. Bubur Bintang 14 bukan sekadar pengganjal perut. Kuliner ini memberi semangat pada awal sif kerja.

Ruslan merintis usaha ini sejak tahun 2019. Bubur gurih ini selalu menjadi buruan. Ruslan menjualnya dengan harga murah, cuma Rp15.000 per porsi.

“Semua kalangan menyukai bubur ini. Mulai dari bayi sampai orang sakit,” ujar Ruslan, akhir September 2026.

Ruslan berasal dari Kabupaten Buol. Ia memakai resep legendaris sang ayah. Berbekal resep itu, ia nekat merantau.

Kini usahanya membuahkan hasil manis. Ruslan mempekerjakan 10 karyawan untuk mengelola enam cabang. Seluruh cabang berdiri di Kecamatan Bahodopi.

Warung Ruslan buka pukul 07.00 hingga 12.00 WITA. Ruslan meraup omzet hingga Rp11 juta per hari.

Bagi puluhan ribu pekerja di Kawasan Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), semangkuk Bubur Ayam Bandung Bintang 14 buatan Ruslan bukan sekadar pengganjal perut. Dok: PT IMIP

Magnet Raksasa Puluhan Triliun

Ruslan jeli melihat peluang bisnis. Industri nikel Morowali berkembang sangat masif. Kawasan IMIP menyedot puluhan ribu perantau.

Data HR Department PT IMIP menunjukkan lonjakan pekerja. Pada tahun 2020, kawasan mencatat 35.592 pekerja. Angka ini naik menjadi 68.466 orang pada 2022.

Tahun 2025, jumlah pekerja mencapai 86.804 orang. Angka ini kian melonjak hingga September 2026. Total pekerja menembus angka 100.310 orang. Pekerja laki-laki berjumlah 91.904 orang. Sementara pekerja perempuan berjumlah 8.406 orang.

Pertumbuhan pekerja menciptakan pusaran ekonomi besar. Pada tahun 2025, perputaran uang sangat tinggi. Angkanya mencapai Rp499,1 miliar per bulan. Nilai itu setara Rp5,9 triliun setahun.

Kawasan industri tidak sanggup memenuhi semua kebutuhan. Usaha warga sekitar pun ikut berkembang.

“Pertumbuhan kawasan mendorong sektor usaha lokal,” kata Dedy Kurniawan, Head of Media IMIP.

Riset mencatat lima jenis UMKM terbanyak. Warga membuka Kios Pertamini sebanyak 981 unit. Stan Minuman mencapai 735 unit.

Warga mendirikan Stan Makanan non-bangunan sebanyak 670 unit. Kios Umum berjumlah 648 unit. Warung Makan mencatatkan 591 unit.

“Usaha mikro mendominasi sebagian besar bisnis di sini. Pemilik meraup omzet hingga Rp300 juta per tahun,” tambah Dedy.

“Helm Kuning” dan Bulir Keringat Mak Indah

Aroma nasi kuning menyeruak di Jalan Trans Sulawesi. Bau gurih itu merebak di Desa Fatufia. Aroma ini menandai datangnya pagi.

Nursia Asis (45) setia menanti pembeli. Orang-orang akrab memanggilnya Mak Indah. Ia melayani pekerja yang berganti sif.

Para “helm kuning” menjadikan nasi kuning Mak Indah langganan. Mak Indah memberi porsi melimpah dengan harga terjangkau. Ia menjaga rasa masakan sejak Januari 2014.

Saban hari Mak Indah memasak puluhan kilogram beras. Ia mengantongi omzet puluhan juta rupiah sebulan.

Ibu tunggal ini tidak takut bersaing. Warga terus membuka warung baru di sekitarnya. Bahkan banyak pengusaha membuka warung 24 jam.

“Tuhan sudah mengatur rezeki,” cetusnya santai.

Mak Indah sering membagikan resep masakan kepada orang lain. Ia tidak segan memberi tips berjualan. Candaannya kerap menghibur para buruh pabrik.

Mak Indah berjuang demi ketiga anaknya. Mereka tinggal di Kabupaten Sikka, NTT. Kerja kerasnya di Bahodopi kini membuahkan hasil.

Putri sulungnya mengantongi gelar sarjana IT. Indah Mayangsari (23) meraih IPK 3,65. Kini ia mengajar di Kupang.

Anak keduanya bernama Muhammad Wildan (19). Lulusan sekolah teknik ini mengabdi sebagai prajurit TNI AD. Saat ini ia menempuh pendidikan di Bogor.

Anak bungsu bernama Muhammad Azwar Alam (12). Ia menimba ilmu di pesantren Bungku. Azwar bercita-cita menjadi prajurit TNI AL.

“Saya hidup biasa saja. Yang penting anak bisa sekolah tinggi,” tutur Mak Indah.

Menjaga Resep, Merawat Harapan

Pihak IMIP menyadari pentingnya inklusi ekonomi. Ekosistem industri harus merangkul warga sekitar.

Selama 13 tahun, IMIP merangkul warga sebagai mitra. Manajemen membuka pintu kerja sama lebar-lebar. UMKM kuliner dan hunian tumbuh pesat. Bisnis warga menopang kehidupan para pekerja.

Para pedagang merasakan manfaat hubungan saling menguntungkan ini. Keberlanjutan industri menghidupi dapur mereka.

“Saya ingin usaha maju dan IMIP tidak memangkas karyawan,” kata Mak Indah.

Ruslan memilih fokus pada hal mendasar. Ia konsisten menjaga resep keluarga. Ruslan terus memberikan layanan terbaik kepada pelanggan.

Dari bubur dan nasi kuning, warga merajut harapan. Kemilau nikel ikut menghidupi rakyat kecil.