PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) mendorong pembangunan berkelanjutan melalui penguatan aspek sosial dalam program pemberdayaan masyarakat, khususnya bagi petani lokal di Morowali, Sulawesi Tengah.
Melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), IMIP tidak hanya berfokus pada pertumbuhan ekonomi kawasan industri, tetapi juga membangun hubungan yang inklusif dengan masyarakat serta memperkuat kemandirian ekonomi petani.
Head of Department CSR IMIP, Tommy Adi Prayogo, menjelaskan bahwa penguatan petani lokal dilakukan melalui pembinaan berkelanjutan, mulai dari teknik budidaya, manajemen kelompok, hingga pemenuhan standar kualitas sesuai kebutuhan Central Kitchen kawasan industri.
“Pendekatan ini juga mendorong praktik pertanian yang lebih terencana, efisien, dan ramah lingkungan, sekaligus memberikan kepastian pasar bagi petani melalui integrasi ke dalam rantai pasok industri,” ujarnya dalam siaran pers yang Eranesia.id terima, Rabu (5/5/2026).
Tommy menambahkan, pola kemitraan yang terstruktur membantu petani memahami standar produksi, sistem kontrak, hingga distribusi yang lebih profesional, sehingga mengurangi ketergantungan pada pasar tradisional yang fluktuatif.
Program ini telah menunjukkan hasil nyata dengan bergabungnya dua kelompok tani sebagai pemasok di IMIP, yakni Kelompok Tani Berkah Mombula dan Kelompok Tani Sukamaju.
Sejak 2022, IMIP telah melaksanakan pelatihan sistem pertanian terintegrasi, kemudian dilanjutkan pada 2023 dengan pendampingan melalui penyediaan sarana dan prasarana serta penguatan akses pasar.
Kelompok Tani Berkah Mombula, yang beranggotakan 12 orang, mulai menjadi pemasok Central Kitchen IMIP sejak 2023 dengan frekuensi pengiriman empat hingga lima kali per bulan.
Sementara itu, Kelompok Tani Sukamaju dengan 23 anggota mulai bergabung sejak April 2025 dengan intensitas pengiriman dua hingga tiga kali per bulan.
Secara kumulatif, Kelompok Tani Berkah Mombula telah menyuplai 40,28 ton komoditas hortikultura, seperti cabai, sayuran hijau, dan tomat.
Pendapatan kelompok ini tercatat sebesar Rp79,58 juta pada 2023, sempat menurun menjadi Rp33,93 juta pada 2024, dan meningkat signifikan menjadi Rp485,47 juta pada 2025.
Adapun Kelompok Tani Sukamaju mencatat total pasokan 30,31 ton dengan pendapatan mencapai Rp311,79 juta pada 2025, menunjukkan dampak ekonomi yang cepat dari akses pasar terintegrasi.
IMIP memastikan program ini akan terus dikembangkan dengan memperluas jangkauan kelompok tani binaan, memperkuat tata kelola yang transparan dan akuntabel, serta mendorong praktik pertanian yang berkelanjutan.
“Ke depan, kami menargetkan perluasan jumlah kelompok tani binaan agar kawasan industri dapat menjadi katalis transformasi ekonomi lokal yang lebih inklusif,” tutup Tommy.
Rilis | Editor : Muh Taufan













