KANTOR Pencarian dan Pertolongan (SAR) Banten mengoptimalkan pencarian lima jurnalis yang hilang kontak saat meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau (GAK).
Tim SAR gabungan mengerahkan Helikopter Dauphin AS365 N3+ (HR-3604) untuk menyisir perairan Selat Sunda, Kabupaten Pandeglang, Banten, Kamis (10/9/2026).
Kepala Kantor SAR Banten, Al Amrad, menjelaskan bahwa pemantauan udara ini bertujuan memperluas jangkauan visual di titik-titik krusial.
Helikopter yang membawa tujuh personel tersebut lepas landas dari Lanud Atang Sendjaja (ATS) Bogor pukul 12.36 WIB, transit di JIExpo Kemayoran Jakarta, lalu menuju zona pencarian di Banten.
“Rute penerbangan mencakup JIExpo Kemayoran – Pantai Carita – BPBD Banten – JIExpo Kemayoran untuk memperkuat armada pencarian,” ujar Al Amrad di Pandeglang, Kamis (10/9/2026).
Strategi dan Kendala di Lapangan
Selain armada udara, Basarnas menyiagakan pesawat nirawak (drone) di atas kapal guna mengoptimalkan pantauan jarak dekat di permukaan laut. Namun, operasional drone dan kapal penyisir sangat bergantung pada dinamika cuaca.
“Drone tetap kami siagakan di kapal, tetapi penggunaannya melihat kondisi lapangan karena arah angin sering berubah cepat,” kata Al Amrad.
Rencana Perluasan Sektor Pencarian
Berdasarkan hasil evaluasi, Tim SAR berencana memperluas penyisiran hingga mendekati tepi perairan Gunung Anak Krakatau. Meski begitu, keselamatan personel tetap menjadi prioritas utama mengingat status GAK yang masih siaga.
- Sektor Penyisiran: Diperluas hingga mendekati zona perairan tepi Gunung Anak Krakatau.
- Faktor Keselamatan: Pemantauan ketat terhadap aktivitas vulkanik GAK melalui Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) untuk menghindari bahaya material erupsi.
- Kewaspadaan Cuaca: Mengantisipasi perubahan arah angin dan gelombang ekstrem yang dapat mengganggu armada laut maupun drone.
“Kemarin ada usulan masuk ke wilayah tepi Anak Krakatau. Rencana itu akan kami coba selama situasinya aman. Faktor keselamatan personel adalah yang paling utama,” tegas Al Amrad.











