EkonomiRegional

Pemkot Palu Cetak Pelaku UMKM Baru Lewat Pelatihan Membatik Ecoprint

×

Pemkot Palu Cetak Pelaku UMKM Baru Lewat Pelatihan Membatik Ecoprint

Sebarkan artikel ini
Sebanyak 20 peserta mengikuti pelatihan selama dua hari, 28–29 Agustus 2026. Kegiatan ini menjalankan Program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS). Program tersebut mengasah literasi sekaligus membuka peluang usaha ekonomi kreatif. Foto: Rusdia/Eranesia.id

PEMERINTAH Kota (Pemkot) Palu terus mendorong kemunculan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) baru. Pemkot melancarkan langkah ini lewat Dinas Kearsipan dan Perpustakaan. 

Mereka menggelar pelatihan membatik ecoprint di Gedung Layanan Perpustakaan Palu, Rabu (28/8/2026).

Sebanyak 20 peserta mengikuti pelatihan selama dua hari, 28–29 Agustus 2026. Kegiatan ini menjalankan Program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS). Program tersebut mengasah literasi sekaligus membuka peluang usaha ekonomi kreatif.

Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Palu, Asharrini Mastura, menilai ecoprint memiliki prospek bisnis cerah. Modal yang minim mampu menghasilkan produk bernilai jual tinggi.

“Masyarakat hanya butuh modal sekitar Rp75 ribu untuk selembar kain. Namun, mereka bisa menjual hasilnya hingga Rp300 ribu per lembar. Peluang usaha ini sangat potensial bagi warga,” ujar di Palu, Jumat (28/8/2026). 

Keterampilan membatik ecoprint memberi bekal bagi peserta. Mereka bisa membangun usaha mandiri atau mengembangkan UMKM kerajinan lokal.

“Kami mengarahkan pelatihan ini sebagai modal berusaha. Peserta tidak hanya memperoleh keahlian baru. Mereka mampu menciptakan produk komersial untuk meningkatkan pendapatan keluarga,” lanjutnya.

Memanfaatkan Kekayaan Alam Lokal

Para peserta mempelajari seluruh tahapan pembuatan ecoprint. Mereka mencuci bahan kain hingga mencetak motif memakai bahan alami. Peserta memproses dua jenis kain, yaitu rayon dan katun. Kedua bahan menghasilkan karakteristik motif yang berbeda.

Peserta memanfaatkan kekayaan alam sekitar sebagai bahan utama. Daun kelor dan daun ketapang membentuk motif sekaligus memberi warna alami. Bahan-bahan ini menciptakan corak unik yang ramah lingkungan.

Teknik tersebut mengolah daun, bunga, serta ranting menjadi motif bernilai estetika tinggi. Produk ecoprint tampil menarik dan menguasai nilai ekonomi yang kompetitif di pasar.

Asharrini menegaskan fungsi baru perpustakaan. Lembaga ini bertransformasi menjadi pusat pemberdayaan masyarakat.

“Lewat TPBIS, perpustakaan bukan lagi sekadar tempat membaca. Tempat ini menjadi ruang belajar, berkarya, dan memberdayakan warga demi kesejahteraan,” jelasnya.

Ia berharap keterampilan peserta melahirkan produk unggulan khas Palu. Keterampilan ini juga membuka jalan bagi kemunculan UMKM berbasis potensi lokal.

Pemkot Palu memadukan literasi, kreativitas, dan kewirausahaan. Langkah nyata ini memperkuat ekonomi kreatif warga sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.