DI salah satu lorong Kota Palu, berdiri sebuah bangunan sederhana yang tak sekadar menjadi rumah biasa. Tempat itu bernama Roemah Jurnalis. Dari luar, bangunannya tampak bersahaja. Tidak megah dan jauh dari kesan mewah. Namun, di balik dinding-dindingnya, tersimpan begitu banyak cerita.
Di rumah itulah canda pecah di sela diskusi panjang, tawa menghangatkan malam, kesedihan dibagi ketika kabar duka datang, dan semangat perjuangan tumbuh di antara para jurnalis yang terus berupaya menjaga marwah profesinya.
Roemah Jurnalis merupakan tanah dan bangunan yang dipinjamkan oleh Mohamad Sharfin, atau yang akrab disapa Pipin, jurnalis senior dari Net TV. Tempat ini kemudian menjadi ruang bersama bagi para jurnalis di Sulawesi Tengah, khususnya yang bermukim di Kota Palu.
Selama kurang lebih delapan tahun, rumah sederhana itu menjadi titik temu bagi jurnalis lintas generasi. Jurnalis muda, madya, hingga senior berkumpul di sana.
Mereka datang dari pelbagai media, latar belakang, dan sudut pandang. Namun, ketika berada di bawah atap yang sama, semua sekat melebur. Mereka duduk sejajar sebagai sesama penjaga informasi.

Kini, kisah itu memasuki babak baru
Roemah Jurnalis akan segera dibongkar untuk kepentingan pembangunan yang lebih besar. Kabar itu datang lewat pesan singkat di grup WhatsApp Roemah Jurnalis, Senin (1/6/2026).
“Insya Allah ada tempat lain yang akan jadi rumah bersama kita. Amin,” tulis Pipin.
Pesan singkat itu langsung memantik beragam respons. Ada rasa sedih, haru, dan kenangan yang mendadak menyeruak. Sejumlah jurnalis pun bergegas mengumpulkan inventaris organisasi untuk dipindahkan. Mereka berharap, sekretariat bersama itu segera menemukan rumah baru.
Beralamat di Jalan Ahmad Yani, Lorong III Nomor 58, Kelurahan Besusu Tengah, Kecamatan Palu Timur, Roemah Jurnalis bukan sekadar ruang singgah. Tempat itu adalah saksi perjalanan panjang dunia pers di Sulawesi Tengah.
Di sanalah gagasan lahir. Idealisme ditempa. Solidaritas antarsesama pekerja media dipupuk dan dirawat dari waktu ke waktu.
Ruangan yang kerap dipenuhi aroma kopi dan bunyi ketikan laptop itu menjadi ruang hidup bagi diskusi-diskusi yang tak pernah sederhana.
Obrolan ringan tentang keseharian sering berubah menjadi pembahasan serius mengenai kebebasan pers, etika jurnalistik, tantangan media digital, hingga isu-isu sosial yang menuntut keberpihakan pada kebenaran.
Tak jarang perdebatan berlangsung sengit. Argumen saling bersilang. Namun semuanya selalu berakhir dengan tawa dan saling pengertian. Di tempat itu, perbedaan pandangan justru menjadi bahan bakar untuk memperkaya perspektif.
Sejumlah organisasi pers menjadikan Roemah Jurnalis sebagai ruang bertumbuh bersama. Mulai dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Palu, Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Sulawesi Tengah, Pewarta Foto Indonesia (PFI) Palu, hingga Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Sulawesi Tengah.
Kehadiran organisasi-organisasi itu menjadikan Roemah Jurnalis sebagai simpul penting ekosistem pers di Sulawesi Tengah.
Beragam kegiatan digelar di sana. Konferensi pers, diskusi publik, pelatihan jurnalistik, kelas cek fakta, fotografi jurnalistik, hingga bedah isu-isu kontemporer yang menuntut respons cepat dari insan pers.
Belum lama ini, Roemah Jurnalis menggelar diskusi dan nonton bareng film dokumenter Pesta Babi, yang mengangkat isu eksploitasi alam dan penggusuran masyarakat di Papua. Antusiasme peserta begitu tinggi hingga ruangan tak lagi mampu menampung seluruh pengunjung.
Rumah itu tak hanya diisi jurnalis media lokal. Para pewarta dari media nasional hingga internasional juga pernah singgah. Mereka datang untuk berdiskusi, berbagi pengalaman liputan, atau sekadar menikmati secangkir kopi sambil mendengar cerita tentang dinamika jurnalistik di Sulawesi Tengah.

Banyak kisah besar lahir dari ruang sederhana itu
Ada jurnalis muda yang pertama kali menemukan keberanian menulis isu sensitif setelah mendapat dukungan dari rekan-rekannya di sana.
Ada pula wartawan senior yang membagikan pengalaman liputan di wilayah konflik, mengajarkan bahwa keberanian harus selalu berjalan berdampingan dengan kebijaksanaan.
Roemah Jurnalis juga pernah menjadi ruang duka. Ketika kabar tentang rekan yang berpulang datang, tempat itu menjadi titik berkumpul untuk saling menguatkan. Di tengah keheningan dan doa, para jurnalis menyadari bahwa profesi ini bukan sekadar soal mengejar berita, tetapi juga tentang persaudaraan yang melampaui batas pekerjaan.
Lebih dari itu, Roemah Jurnalis adalah simbol perjuangan. Ia menjadi saksi bagaimana jurnalis Sulawesi Tengah menghadapi pelbagai tantangan, mulai dari tekanan di lapangan, keterbatasan fasilitas, hingga derasnya arus disinformasi di era digital.
Di tengah gempuran informasi instan, rumah itu terus mengingatkan bahwa jurnalisme membutuhkan ruang untuk berpikir, berdiskusi, dan menjaga nurani.
Bagi banyak orang, Roemah Jurnalis mungkin hanya bangunan sederhana. Namun bagi mereka yang pernah duduk di dalamnya hingga larut malam, berbagi keresahan, menertawakan lelah, dan merajut harapan, tempat itu adalah rumah dalam arti yang sesungguhnya.
Di sanalah banyak cerita bermula. Di sanalah canda, tawa, duka, dan perjuangan menyatu menjadi bagian dari sejarah pers Sulawesi Tengah.
Setelah kabar pembongkaran itu tersebar, ucapan terima kasih pun mengalir.
“Terima kasih Kakak Pipin sudah memberi tempat berkumpul bagi teman-teman selama bertahun-tahun. Insya Allah menjadi pahala,” ujar Pimpinan Redaksi Brita.id, Amat Banjir.
Ucapan serupa datang dari jurnalis Bulletin.id, Indrawati. Menurutnya, Roemah Jurnalis bukan hanya rumah bagi para jurnalis.
“Bukan cuma untuk teman-teman jurnalis, tapi juga tempat berkumpul mama-mama, para istri jurnalis saat arisan. Pokoknya Roemah Jurnalis the best,” katanya.
Roemah Jurnalis mungkin akan dibongkar. Dindingnya boleh runtuh. Atapnya boleh berganti. Namun kenangan, semangat, dan solidaritas yang tumbuh di dalamnya akan tetap hidup.
Sebab rumah sejatinya bukan soal bangunan, melainkan tentang orang-orang yang menghidupkannya.
Dan bagi para jurnalis Sulawesi Tengah, Roemah Jurnalis akan selalu menjadi bagian penting dari perjalanan mereka, sebuah jejak yang tak akan pernah benar-benar hilang.
Penulis : Taufan Bustan | Penanggung jawab Media Indonesia Sulawesi Tengah













