MENJELANG Idul Adha, umat Islam dianjurkan memperbanyak ibadah, termasuk puasa sunnah di awal bulan Dzulhijjah. Amalan ini memiliki keutamaan besar karena Allah SWT mencintai amal saleh pada hari-hari tersebut.
Sejumlah riwayat hadits menjelaskan kebiasaan Rasulullah SAW yang rutin menjalankan ibadah sunnah. Salah satunya hadits dari Hafshah RA yang menyebut Rasulullah SAW tidak pernah meninggalkan puasa Asyura, puasa 10 hari awal Dzulhijjah, puasa tiga hari setiap bulan, serta dua rakaat sebelum Subuh.
Puasa 10 Hari Dzulhijjah
Umat Islam menjalankan puasa ini pada awal bulan Dzulhijjah, khususnya tanggal 1–7 Dzulhijjah. Hari-hari ini memiliki keutamaan besar untuk memperbanyak amal saleh.
Rasulullah SAW bersabda bahwa 10 hari pertama Dzulhijjah memiliki kedudukan paling utama di sisi Allah, dan Allah sangat mencintai amal saleh pada waktu tersebut.
Niat puasa:
“Nawaitu shauma syahri dzil hijjah sunnatan lillahi ta’ala.”
Artinya: Saya berniat puasa sunnah bulan Dzulhijjah karena Allah Ta’ala.
Puasa Tarwiyah (8 Dzulhijjah)
Umat Islam menjalankan puasa Tarwiyah pada 8 Dzulhijjah, sehari sebelum Arafah.
Niat puasa:
“Nawaitu shauma tarwiyata sunnatan lillahi ta’ala.”
Artinya: Saya berniat puasa Tarwiyah karena Allah Ta’ala.
Puasa Arafah (9 Dzulhijjah)
Umat Islam menjalankan puasa Arafah pada 9 Dzulhijjah, sehari sebelum Idul Adha. Banyak umat Islam mengamalkan puasa ini karena keutamaannya yang besar.
Dalam hadits riwayat Muslim, Rasulullah SAW menyebut puasa Arafah menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.
Niat puasa:
“Nawaitu shauma ‘arafata sunnatan lillahi ta’ala.”
Artinya: Saya berniat puasa Arafah karena Allah Ta’ala.
Selain puasa, umat Islam juga memperbanyak dzikir, shalawat, dan sedekah pada hari-hari mulia ini untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Wallahu a’lam.
Sumber : Baznas.go.id | Editor : Muh Taufan













