BANDARA identik dengan hiruk-pikuk pelancong yang lelah atau terburu-buru mengejar penerbangan. Sayangnya, kondisi psikologis yang lengah ini kerap dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan untuk melancarkan aksi penipuan (scam).
Laporan terbaru dari AAA Club Alliance dalam publikasinya, The Extra Mile, membeberkan 11 modus penipuan yang marak terjadi di bandara.
Mulai dari pencurian data siber dan pembajakan kartu kredit, hingga penipuan taksi dan bagasi yang berisiko menguras habis isi rekening.
Dikutip dari Quartz, Kamis (4/11/2026), berikut 11 modus penipuan di bandara beserta panduan untuk menghindarinya:
1. Phishing Kode QR (Quishing)
Pelaku menempelkan stiker kode QR palsu di atas kode resmi pada meteran parkir, poster, atau fasilitas publik bandara.Memindai kode ini dapat mengarahkan ponsel ke situs web bodong untuk menguras data pribadi, menyuntikkan malware,atau mengalihkan transaksi pembayaran.
- Pencegahan: Periksa fisik kode QR untuk memastikan tidak ada stiker tempelan di atasnya. Pastikan URL situs diawali dengan HTTPS, atau lebih aman ketik alamat situs web resmi secara langsung tanpa memindai kode.
2. Peretasan Wi-Fi dan Bluetooth (Evil Twin)
Peretas membuat jaringan Wi-Fi publik gratis palsu (evil twin) dengan nama yang sangat mirip dengan Wi-Fi resmi bandara. Saat terhubung, peretas dapat mencuri data sensitif seperti username dan kata sandi aplikasi Anda.
- Pencegahan: Matikan Wi-Fi dan Bluetooth saat berada di bandara. Pastikan nama jaringan resmi kepada petugas,atau gunakan koneksi data seluler serta jaringan privat (VPN).
3. Serangan Pengisian Daya USB (Juice Jacking)
Mengisi daya ponsel di port USB gratisan di tempat umum berisiko memaparkan perangkat pada serangan juice jacking.Karena kabel USB standar mampu menyalurkan daya sekaligus data, port yang telah diotak-atik dapat menyuntikkan malware atau menyedot data di dalam ponsel.
- Pencegahan: Gunakan stopkontak dinding (AC outlet) dengan pengisi daya pribadi, gunakan kabel khusus pengisi daya (power-only cable), atau manfaatkan penangkal transfer data (USB data blocker).
4. Pembajakan Kartu Pembayaran (Card Fraud & Skimming)
Penipu memasang perangkat skimmer pada mesin ATM atau alat pembayaran (EDC/PIN pad) untuk merekam nomor kartu dan PIN. Modus ini kerap diawali dengan penolakan transaksi atau kejanggalan tagihan bernominal kecil.
- Pencegahan: Periksa fisik alat pembayaran sebelum menggesek kartu. Aktifkan notifikasi transaksi (transaction alert) pada aplikasi perbankan dan pantau riwayat rekening secara berkala selama perjalanan.
5. Penipuan Dokumen Perjalanan (Travel Document Fraud)
Mengunggah foto tiket pesawat (boarding pass) ke media sosial dapat memaparkan nama dan kode pemesanan (booking code). Kode batang (barcode) atau QR pada tiket dapat dimanfaatkan peretas untuk mengakses rincian penerbangan,membatalkan tiket pulang, hingga mengindikasikan bahwa rumah Anda sedang kosong.
- Pencegahan: Hindari mengunggah dokumen perjalanan ke media sosial. Hancurkan tiket fisik setelah sampai di tujuan, dan waspadai pesan singkat (SMS) palsu yang mengatasnamakan maskapai terkait penundaan penerbangan.
6. Aplikasi Akses Ruang Tunggu Palsu (Lounge Pass Scams)
Di beberapa bandara, akses menuju lounge memerlukan aplikasi khusus. Penipu memanfaatkan hal ini dengan membuat aplikasi Lounge Pass palsu di luar toko aplikasi resmi untuk meretas SMS masuk dan menyedot data sensitif pengguna.
- Pencegahan: Unduh aplikasi hanya melalui toko resmi (Google Play Store atau App Store) dan tolak permintaan izin (permission) akses SMS dari aplikasi yang tidak dikenal.
7. Penipuan Bagasi (Luggage Scams)
Orang asing yang meminta bantuan untuk dibawakan tas atau koper melalui pos pemeriksaan—bahkan dengan imbalan uang—merupakan sinyal bahaya. Tas tersebut bisa saja berisi barang terlarang atau hasil penyelundupan.
- Pencegahan: Tolak secara tegas permintaan membawa barang milik orang lain. Gunakan kunci berstandar TSA (TSA-approved lock) dan pelindung koper (reusable cover) untuk melindungi koper pribadi dari pencurian barang di kantong luar.
8. Penipuan Taksi dan Sewa Mobil (Taxi & Car Rental Scams)
Pengemudi taksi gelap di area kedatangan sering kali mematok tarif berlebihan (overcharging), mencuri bagasi, atau melakukan skimming. Sementara pada penyewaan mobil, pelanggan kerap dikenakan denda atas kerusakan kendaraan yang tidak mereka lakukan.
- Pencegahan: Saat menggunakan taksi daring, selalu cocokkan identitas pengemudi dan plat nomor kendaraan.Untuk sewa mobil, dokumentasikan kondisi seluruh bagian kendaraan melalui foto atau video sebelum meninggalkan lokasi penyewaan.
9. Petugas Bandara atau Maskapai Palsu
Penipu berpura-pura menjadi staf resmi bandara atau maskapai menggunakan seragam dan lencana (badge) palsu untuk mengelabui pelancong yang kebingungan.
- Pencegahan: Jangan mudah percaya hanya karena seseorang mengenakan seragam. Verifikasi identitas petugas ke konter resmi maskapai atau meja informasi (information desk).
10. Penipuan Penukaran Mata Uang (Currency Exchange Scams)
Kios penukaran uang di bandara kerap memberikan nilai tukar (exchange rate) yang buruk, mengenakan biaya layanan tinggi, hingga sengaja mengurangi uang kembalian (shortchanging) atau menyelipkan uang kertas palsu.
- Pencegahan: Riset nilai tukar yang berlaku sebelum bepergian. Tukarkan mata uang di bank resmi sebelum keberangkatan atau gunakan kartu debit/kredit dengan biaya transaksi luar negeri yang rendah.
11. Pengalihan Perhatian (Distraction Scams)
Modus ini biasanya melibatkan dua orang atau lebih. Satu pelaku memicu pengalihan perhatian—seperti menjatuhkan barang atau membuat keributan di sekitar area pos pemeriksaan (security checkpoint)—sementara komplotannya menggasak barang bawaan saat korban lengah.
- Pencegahan: Selalu awasi koper dan barang bawaan Anda setiap saat. Di pos pemeriksaan, masukkan tas ke mesin pemindai tepat sebelum Anda berjalan melewati pintu pendeteksi logam.













