DIREKTUR Kolaborasi Internasional Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Imaduddin Abdullah, menilai penyaluran subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) masih belum tepat sasaran.
Data menunjukkan kelompok masyarakat mampu (desil 9 dan 10) menghabiskan sekitar 42 persen konsumsi BBM.
“Kelas menengah atas menikmati hampir setengah konsumsi BBM. Pemerintah perlu mengendalikan konsumsi domestik, salah satunya melalui pembatasan Pertalite,” ujar Imaduddin dikutip dari CNBC Indonesia, Sabtu (29/8/2026).
Pemerintah Matangkan Skema Pembatasan
Merespons persoalan tersebut, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mulai menggodok skema pembatasan Pertalite.
Kebijakan ini menyasar kelompok berekonomi tinggi agar beban subsidi energi ratusan triliun rupiah benar-benar tepat sasaran.
Menkeu Purbaya menjelaskan, pemerintah tengah menguji sistem penentuan penerima subsidi dan menilai kesiapan infrastruktur PT Pertamina (Persero).
“Kami mempelajari sistemnya, dan sistem Pertamina sudah cukup baik. Pemerintah akan membatasi akses bagi desil 9 dan 10 secara bertahap, meski pemerintah belum memutuskan jadwal pelaksanaannya,” kata Purbaya.
Motor Bebas Pembatasan, Mobil Mewah Dilarang
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan, aturan pembatasan ini menyasar kendaraan roda empat kelas atas yang tidak layak mengonsumsi BBM bersubsidi. Pihaknya membebaskan sepeda motor dari skema ini, sehingga pengendara dapat membeli Pertalite seperti biasa di SPBU.
“Pemerintah tidak membatasi sepeda motor. Pembatasan ini menyangkut jenis kendaraan. Pemilik kendaraan mewah seperti BMW atau Mercedes-Benz tidak boleh menggunakan minyak subsidi,” tegas Bahlil.














