ANGIN malam di Lapangan Imanuel Palu terasa berbeda, Jumat (19/6/2026). Kala itu, tidak ada sekat pembatas yang tersisa di antara ribuan pasang mata yang larut dalam keheningan.
Di bawah langit Sulawesi Tengah, umat Islam, Kristen, Katolik, Hindu, dan Buddha melebur menjadi satu. Mereka berkumpul membawa satu rasa duka mendalam pascagempa bumi bermagnitudo 6,7 yang mengguncang bumi Tadulako, tiga hari sebelumnya.
Lapangan Imanuel seolah menjadi saksi bisu runtuhnya ego teologis malam itu. Badan Musyawarah Antar Gereja (Bamag) Sulteng menginisiasi agenda akbar bertajuk “Satu Doa, Satu Hati, dan Satu Aksi” ini. Sebuah aksi spontan yang lahir dari panggilan kemanusiaan murni.
Di atas panggung, Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Sulteng, Profesor Zainal Abidin berdiri dengan khidmat. Mantan Rektor IAIN Palu ini memegang peran sentral di balik layar malam syahdu ini.
Sebenarnya, ada cerita menarik di balik perubahan konsep acara tersebut. Sedari awal, Bamag merancang malam itu sebagai panggung konser rohani untuk merayakan Paskah.
Namun, alam berkehendak lain setelah gempa bumi mengguncang pada Selasa, 16 Juni. Oleh karena itu, Zainal langsung mengarahkan kepanitiaan untuk mengubah total arah acara demi menghormati para korban.
“Situasi dan kondisi tidak memungkinkan untuk kita lakukan (konser). Saudara-saudara kita, baik yang seiman maupun yang tidak seiman, sedang tertimpa musibah. Maka dari itu, kita harus merasakan penderitaan orang lain,” tuturnya.
Bagi pakar kerukunan ini, indikator utama hati yang bersih adalah empati kepada sesama. Menariknya, di hadapan massa, sang kiai justru mengutip nilai luhur dari Kitab Matius tentang ajaran mengasihi sesama manusia seperti mengasihi diri sendiri.
“Hari ini kita tunjukkan itu. Kita berdoa bersama, meminta kepada Tuhan Yang Maha Esa agar menguatkan saudara-saudara kita,” urainya dengan suara bergetar.
Ia juga mengajak masyarakat memandang musibah ini sebagai alarm pengingat persaudaraan, khususnya bagi korban di Kabupaten Sigi dan Parigi Moutong.
Di sisi lain, Zainal pun melempar pujian tinggi untuk Hendrik G Lyanto, atau yang akrab warga sapa dengan nama Ko Aceo. Sebagai Ketua Panitia Pelaksana, Ko Aceo menunjukkan keteladanan nyata tentang arti merawat kemanusiaan.
“Jangan lagi melihat agama, jangan lagi melihat suku dan budayanya! Karena yang kita lihat, dia adalah manusia ciptaan Tuhan,” ucap Zainal dengan berapi-api. Ribuan hadirin membalas ucapan itu dengan gemuruh haru.
Tak lama kemudian, Gubernur Sulteng, Anwar Hafid, yang hadir di lokasi ikut menyampaikan rasa merindingnya melihat kolaborasi indah ini. Pemandangan malam itu melempar ingatannya pada memori kelam tahun 2018.
Sebab, saat itu gotong royong warga pula yang berhasil membangkitkan Palu dari puing-puing bencana. Selanjutnya, di akhir sambutan, sang Gubernur mengajak ribuan warga bernyanyi bersama lagu Torang Samua Basudara dan Indonesia Pusaka.
Terkait hal tersebut, Ko Aceo menegaskan gerakan ini bukan sekadar pemanis di atas panggung. Atas restu Gubernur dan FKUB, timnya sudah bergerak ke lapangan untuk menyalurkan bantuan tahap awal ke wilayah Palolo. Mereka juga membagikan ribuan dus mi instan ke berbagai desa terdampak tanpa memandang latar belakang agama penerima.
Para pemuka agama dari lima keyakinan berbeda maju bergantian memimpin doa sebagai puncak acara malam itu.
Seketika, saat pelantangan doa mulai menggema, isak tangis langsung pecah di tengah lapangan. Air mata yang menetes malam itu seolah menegaskan satu hal ketika bencana mengetuk pintu rumah, perbedaan keyakinan seketika meluap. Di Lapangan Imanuel, warga Sulteng membuktikan bahwa kemanusiaan adalah agama yang paling universal.













