Feature

Cuan Manis dari Secangkir Kopi

×

Cuan Manis dari Secangkir Kopi

Sebarkan artikel ini
Moh Ahdiat (27) pendiri kedai Solusi Kopie. Dok: Departemen Media PT IMIP

DERU mesin pabrik belum juga reda di Kecamatan Bahodopi, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah. Saat ribuan pekerja selesai bergiliran kerja, mereka melepas seragam proyek yang berdebu. Di luar kawasan PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), sudut-sudut jalan justru mulai bersiap menyalakan lampu.

Bahodopi kini bukan lagi sekadar wilayah lingkar tambang yang bising. Di sini, aroma pekat biji kopi giling menyeruak di antara kepulan asap industri nikel. Aktivitas ini perlahan menjadi gaya hidup baru bagi masyarakat dan para pekerja.

Efek pengganda ekonomi dari raksasa industri itu sangat nyata. Puluhan ribu pekerja datang dengan kebutuhan konsumsi harian. Alhasil, mereka menyulap Bahodopi menjadi ladang subur bagi bisnis kuliner.

Data dari Tim Research and Support PT IMIP per Oktober 2025 merekam fenomena ini dengan jelas. Sektor kuliner mendominasi peta UMKM dengan 2.107 unit usaha.

Angka ini mencakup sekitar 26 persen dari total 7.643 UMKM di sana. Di dalamnya, terselip 111 kafe dan restoran yang saban hari riuh oleh obrolan warga dan buruh pabrik.

Solusi Kopie

Awal Juni 2026, sore itu di Desa Keurea, Moh Ahdiat (27) sibuk di balik meja bar. Ia mengelola Solusi Kopie, kedai kopi yang ia bangun dari nol.

Sebagai pemuda asli Morowali, Ahdiat lulus sarjana pada 2021 lalu. Saat itu, ia sempat menghadapi persimpangan hidup yang jamak dialami pemuda setempat. Ia bingung antara mengantre kerja di kawasan IMIP atau menciptakan jalurnya sendiri.

“Sebelumnya saya cuma punya pengalaman kerja di kedai kopi skala kecil,” kenang Ahdiat sembari tersenyum dikutip dari siaran pers PT IMIP, Sabtu (13/6/2026).

Ia akhirnya memilih opsi kedua. Jalannya tentu tidak langsung mulus, namun perjudiannya terbayar tunai.

Ahdiat mengandalkan pertumbuhan penduduk produktif dan melonjaknya daya beli di Bahodopi. Kini, Solusi Kopie bertransformasi menjadi salah satu titik kumpul paling populer. Sekitar 80 persen pelanggannya adalah pekerja kawasan IMIP. Mereka mencari pelarian sejenak dari penatnya ritme pabrik.

Hasilnya pun tidak main-main. Dalam setahun terakhir, Solusi Kopie konsisten membukukan omzet Rp120 juta hingga Rp150 juta per bulan. Dari bisnis ini pula, Ahdiat kini menghidupi 10 karyawan. Mereka bekerja sebagai barista, pelayan, hingga staf dapur.

Bagi Ahdiat, kunci bisnisnya bukan sekadar menjual rasa, tapi mengelola manusia. Dinamika pekerja di daerah industri terkenal sangat tinggi. Namun, tingkat pergantian karyawan di kedainya justru sangat rendah. Hal itu terjadi karena ia fokus membangun keterampilan timnya.

“Dalam bisnis, penting membentuk budaya kerja. Itu yang nantinya akan membentuk sistem yang baik,” cetusnya diplomatis.

Musti Coffee

Tak jauh dari sana, cerita sukses lain ditulis oleh Selvina Astuti melalui Musti Coffee. Wanita ini sehari-hari berstatus sebagai karyawan di salah satu perusahaan tenant IMIP.

Ia jeli melihat celah pasar yang terbuka luas. Pada Agustus 2024, ia nekat mendirikan kedai kopi modern dengan membidik selera estetika generasi muda.

Lompatan bisnis Musti Coffee terhitung masif. Di enam bulan pertama, Selvina hanya mengantongi Rp500 ribu hingga Rp700 ribu per hari. Kini, perputaran uang di kedainya meroket ke angka Rp2,5 juta hingga Rp3 juta per hari. Pendapatan ini menembus Rp75 juta sampai Rp90 juta setiap bulannya.

Meski statusnya masih usaha mikro, Musti Coffee telah memberi penghidupan bagi empat pekerja lokal. Lebih dari itu, kedai kecil ini ikut menggerakkan rantai pasok ekonomi yang lebih luas. Selvina mendatangkan biji kopi, sirop, hingga kemasan langsung dari hub besar seperti Makassar dan Kendari.

Menjamurnya kedai kopi baru di Bahodopi sama sekali tak membuat Selvina gentar. Baginya, riuh kompetisi justru menjadi bahan bakar untuk terus berinovasi.

“Semakin banyak kafe, semakin beragam pilihan konsumen. Setiap tempat punya karakter, signature, dan target audiens sendiri,” kata Selvina optimis.

Kisah Solusi Kopie dan Musti Coffee adalah potret kecil dari lanskap besar Bahodopi hari ini. Industri nikel memang menjadi motor utama penggerak ekonomi regional. Namun, di tangan anak-anak muda kreatif, cipratan ekonominya mewujud lewat ruang komunal yang hangat.

Para pekerja biasa menikmati segelas kopi susu atau espreso menjelang malam. Dari sana, roda ekonomi masyarakat lingkar industri terus berputar mandiri. Wirausahawan baru bermunculan, dan lapangan kerja terus tercipta.