TEKANAN harga melanda seluruh wilayah kabupaten dan kota di Sulawesi Tengah pada Juni 2026.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Sulawesi Tengah, Muhamad Irfan Sukarna, mengonfirmasi lonjakan inflasi spasial tersebut.
“Secara bulanan, Kabupaten Tolitoli mencatat inflasi tertinggi sebesar 2,26%. Wilayah Luwuk menyusul dengan inflasi 1,16%, Kabupaten Morowali 1,04%, dan Kota Palu 0,79%,” ungkapnya saat menjadi narasumber pada Jurdet TW II x Fresh OJK Sulteng di Palu, Kamis (2/7/2026).
Menurut Irfan, Tolitoli juga memimpin inflasi tahunan tertinggi sebesar 5,41%. Angka inflasi tahunan daerah lain meliputi Luwuk sebesar 5,17%, Kota Palu 3,46%, dan Kabupaten Morowali 2,82%.
Dominasi komoditas pangan bergejolak seperti cabai rawit dan aneka ikan memicu tekanan inflasi ini.
“Selain pangan, komoditas bensin, bawang merah, tomat, dan tarif angkutan udara turut mengerek harga di beberapa wilayah,” ujarnya.
Irfan menjelaskan, gangguan distribusi antarwilayah pascagempa memperkuat tekanan harga di sejumlah daerah. Pasokan pangan dari sentra hortikultura terhambat akibat kerusakan jalur distribusi.
Selain itu, nelayan membatasi aktivitas melaut karena mengkhawatirkan gempa susulan.
“Kondisi ini menahan pasokan ikan di pasar dan memberikan tekanan tambahan pada kelompok pangan,” sebutnya.
Bank Indonesia mengingatkan semua pihak untuk mencermati dampak lanjutan pascagempa ini.
“Penanganan kelancaran distribusi pangan dan pemulihan aktivitas produksi menjadi kunci utama untuk menekan inflasi ke depan,” tandas Irfan.













