EkonomiRegional

Terima Kolam Bioflok, Pembudidaya Ikan di Palu Siap Pangkas Masa Panen

×

Terima Kolam Bioflok, Pembudidaya Ikan di Palu Siap Pangkas Masa Panen

Sebarkan artikel ini
Teknologi bioflok memiliki efisiensi jauh lebih tinggi dibandingkan metode kolam tanah konvensional. Keunggulan utamanya terletak pada masa panen yang relatif singkat dan pengelolaan pakan yang lebih hemat. Foto: Rusdia/Eranesia.id

KELOMPOK penerima manfaat mengapresiasi hangat program bantuan kolam ikan sistem bioflok hasil sinergi aspirasi DPR RI, DPRD Palu, dan Pemkot Palu.

Apresiasi tersebut antara lain muncul dari Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Anutapura yang menerima bantuan sarana budidaya ikan nila berbasis teknologi bioflok.

Ketua Pokdakan Anutapura, Faisal, menyampaikan rasa terima kasih mendalam atas realisasi bantuan tersebut.

Menurutnya, bantuan ini memberi suntikan semangat sekaligus dukungan vital bagi kelompoknya yang terus berupaya mengembangkan sektor perikanan di Kota Palu.

“Saya selaku Ketua Pokdakan Anutapura mewakili 10 anggota kelompok kami yang berdiri sejak tahun 2017. Sampai hari ini kami terus konsisten menjalankan kegiatan budidaya ikan, dan kami sangat mengapresiasi bantuan ini,” ujar Faisal.

Ia menyampaikan apresiasi khusus kepada seluruh pihak yang mengawal dan memperjuangkan bantuan tersebut, khususnya melalui Pokok Pikiran (Pokir) Anggota DPR RI dapil Sulawesi Tengah, Muhidin M. Said, jajaran DPRD Palu, serta Wakil Wali Kota Palu, Imelda Liliana Muhidin.

“Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Pak Muhidin M Said selaku Anggota DPR RI, DPRD Palu, serta Ibu Wakil Wali Kota Palu yang mengawal aspirasi dan memercayakan bantuan ini kepada kelompok kami,” lanjutnya.

Keunggulan Bioflok: Panen Lebih Cepat dan Efisien

Faisal menjelaskan bahwa teknologi bioflok memiliki efisiensi jauh lebih tinggi daripada metode kolam tanah konvensional. Keunggulan utamanya terletak pada masa panen yang relatif singkat dan pengelolaan pakan yang lebih hemat.

“Jika menggunakan kolam tanah, masa panennya cukup lama, berkisar antara 6 hingga 8 bulan. Sementara dengan teknologi bioflok, kami bisa memangkas masa panen menjadi sekitar 4 bulan saja,” jelasnya.

Selain efisiensi pakan dan kemudahan perawatan, ia menekankan pentingnya ketersediaan daya listrik untuk menjaga sirkulasi oksigen pada sistem ini. Ia pun bersyukur karena kelompoknya memperoleh bantuan yang sudah siap pakai dan terintegrasi dengan baik.

“Sistem ini memang bergantung pada listrik untuk sirkulasi. Namun, kami menerima bantuan yang sudah sangat lengkap, termasuk genset penunjang jika pemadaman listrik terjadi,” ungkapnya.

Kesiapan Sumber Daya dan Kepastian Pasar

Sebelum menerima sarana ini, para anggota Pokdakan Anutapura sudah mematangkan kapasitas diri dan kelengkapan administrasi.

“Anggota kami sudah mengikuti pelatihan budidaya bioflok sebanyak dua kali dan memegang sertifikat. Selain itu, kelompok kami juga mengantongi NIB (Nomor Induk Berusaha) serta sertifikasi kelembagaan,” tegasnya.

Dari segi pemasaran, Pokdakan Anutapura tidak meraba-raba. Mereka menjalin kerja sama offtaker dengan sejumlah pelaku usaha kuliner lokal, salah satunya Rumah Makan Saung Sangkuriang yang beroperasi di Kelurahan Kabonena.

Faisal berharap kelompoknya dapat mengelola bantuan ini secara berkelanjutan guna meningkatkan produksi ikan nila daerah sekaligus mendongkrak perekonomian para anggota.

“Kami berharap program ini memicu kemandirian ekonomi masyarakat pembudidaya ikan di Kota Palu serta memperkuat ketahanan pangan lokal secara berkelanjutan,” pungkasnya.