KANTOR Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Sulawesi Tengah terus mendorong percepatan digitalisasi sistem pembayaran. Mereka mengandalkan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) untuk meningkatkan daya saing UMKM.
Analis Junior KPwBI Sulteng, Bintang Samudera, menyampaikan hal ini dalam kegiatan Capacity Building Media Mitra di Ampana, Tojo Unauna, Senin (3/8/2026).
Bintang meluruskan kekeliruan masyarakat terkait biaya transaksi QRIS. Ia menegaskan, Bank Indonesia tidak membebankan biaya tambahan kepada konsumen.
Biaya transaksi berupa Merchant Discount Rate (MDR) hanya berlaku bagi merchant dengan tarif sangat murah.
Sektor rumah ibadah dan bantuan sosial menikmati tarif MDR 0 persen. Sementara itu, sektor komersial hanya membayar tarif sekitar 0,7 persen. Angka ini jauh lebih murah daripada kartu pembayaran internasional yang mencapai tiga hingga empat kali lipat.
“QRIS memberi efisiensi biaya bagi pelaku usaha. Sistem ini sekaligus memperkuat pembayaran nasional melalui Gerbang Pembayaran Nasional (GPN),” ujar Bintang.
Bintang menilai transaksi non-tunai menjadi nilai tambah bagi UMKM. Konsumen cenderung memilih toko yang menyediakan QRIS. Kondisi ini berpotensi meningkatkan omzet penjualan pelaku usaha.
Selain memudahkan pembayaran, QRIS membantu pengelolaan keuangan usaha. Seluruh transaksi langsung masuk ke rekening pemilik. Sistem ini meminimalkan risiko kebocoran dana maupun penggelapan uang tunai.
Bintang menceritakan pengalaman pribadinya saat mengelola usaha secara tunai. Karyawannya sempat menggelapkan dana usaha. Setelah memakai QRIS, seluruh transaksi menjadi transparan dan mudah terpantau.
Pencatatan transaksi digital juga membantu UMKM membangun rekam jejak keuangan. Bank dapat menilai kesehatan usaha secara akurat melalui riwayat transaksi QRIS. Hal ini memudahkan UMKM mengakses pembiayaan perbankan.
Data BI menunjukkan pengguna QRIS di Sulawesi Tengah tumbuh 27 persen hingga pertengahan 2026. Angka ini meningkat signifikan dibanding tahun 2025.
Namun, BI mencatat tiga daerah dengan adopsi QRIS terendah. Wilayah tersebut meliputi Kabupaten Tojo Una-Una, Banggai Kepulauan, dan Buol. Keterbatasan jaringan telekomunikasi menjadi kendala utama di wilayah tersebut.
Oleh karena itu, BI mendorong kolaborasi dengan penyedia jasa telekomunikasi. Pihaknya ingin memperkuat infrastruktur jaringan agar masyarakat mudah mengakses pembayaran digital.
Bintang juga mengingatkan bahwa QRIS mengusung prinsip CEMUMUAH (Cepat, Mudah, Murah, Aman, dan Handal). Sistem ini terintegrasi dengan BI-FAST yang beroperasi 24 jam nonstop.
Melalui perluasan QRIS, BI berharap UMKM di Sulawesi Tengah semakin profesional. Pelaku usaha dapat memperluas pasar, merapikan pembukuan, dan memperoleh akses permodalan dengan lebih mudah.













