MENTERI Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa memastikan pemerintah tetap menahan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi hingga akhir 2026 meski harga minyak dunia meningkat. Namun, ia mengakui kebijakan itu berdampak pada perekonomian.
Purbaya menjelaskan pemerintah menahan harga BBM dengan mempertimbangkan beban masyarakat. Menurutnya, kenaikan harga BBM akan langsung menekan daya beli, terutama kelompok berpendapatan rendah.
“Ketika BBM naik, beban hidup rakyat meningkat,” ujar Purbaya, dikutip dari CNN Indonesia, Rabu (8/4/2026).
Meski demikian, ia menegaskan, kebijakan itu tetap membawa konsekuensi. Secara ekonomi, kebijakan tersebut mempersempit ruang fiskal pemerintah karena pemerintah harus mengalokasikan anggaran untuk menjaga stabilitas harga.
Purbaya menggambarkan kebijakan itu sebagai trade-off antara menjaga daya beli masyarakat dan memperluas ruang belanja pemerintah.
“Kalau saya naikkan BBM, ruang fiskal jadi lebih besar. Tapi rakyat harus menanggung beban, dan itu bisa memperlambat ekonomi,” jelasnya.
Purbaya juga menyoroti perdebatan klasik dalam ekonomi tentang efektivitas belanja antara pemerintah dan masyarakat.
Menurutnya, dalam jangka pendek, masyarakat lebih efisien dalam mengalokasikan pengeluaran dibandingkan pemerintah.
Ia lalu memberi ilustrasi sederhana. Jika pemerintah mengambil sebagian pendapatan masyarakat lalu membelanjakannya kembali, hasilnya belum tentu lebih efisien dibandingkan jika masyarakat membelanjakan langsung sesuai kebutuhannya.
Dalam ilustrasi tersebut, ketika masyarakat mengelola sebagian besar pendapatannya sendiri, mereka cenderung membelanjakan secara lebih tepat sasaran.
Sebaliknya, jika pemerintah mengelola porsi yang lebih besar lalu mendistribusikannya secara umum, misalnya membagi rata antar kementerian atau lembaga, efisiensi bisa menurun karena tidak selalu mencerminkan kebutuhan riil.
“Saya belanjakan lebih baik daripada Anda? Hampir pasti tidak. Masyarakat membelanjakan sesuai kebutuhan, sehingga lebih tepat. Kalau pemerintah, bisa saja membagi rata antar kementerian dan lembaga, sehingga efisiensinya berkurang,” ujarnya.
Sebelumnya, Purbaya memastikan harga BBM subsidi seperti Solar dan Pertalite tidak akan naik hingga akhir 2026. Pemerintah juga menyiapkan berbagai skenario untuk mengantisipasi lonjakan harga minyak global, termasuk jika harga mencapai US$100 per barel.
Dalam skenario tersebut, pemerintah memperkirakan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetap berada di bawah 3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB), yakni sekitar 2,92 persen.
Purbaya menegaskan APBN akan menjadi bantalan untuk menjaga stabilitas harga energi sekaligus melindungi masyarakat dari gejolak harga global.
“Jadi masyarakat tidak perlu khawatir, kami sudah menghitung semuanya,” tandas Purbaya.
Sumber : CNN Indonesia | Editor : Muh Taufan














