PEMERINTAH Kota Palu memperkuat tata kelola persampahan melalui koordinasi lintas sektor. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Palu menegaskan langkah ini dalam sosialisasi pemilahan sampah di Ruang Rapat Bantaya, Kamis (11/6/2026).
Kegiatan ini melibatkan pelaku usaha restoran, kafe, hotel, rumah sakit se-Kota Palu, hingga kelompok peternak yang aktif memanfaatkan sampah organik.
DLH Palu menggelar sosialisasi tersebut guna mempermudah manajemen sampah di hulu, mendongkrak angka daur ulang, menekan volume di TPA Kawatuna, serta mendorong ekonomi sirkular bagi warga.
Wakil Wali Kota Palu, Imelda Liliana Muhidin, mengapresiasi masyarakat yang mulai terbiasa memilah sampah dari rumah. Namun, ia menegaskan sektor swasta dan fasilitas publik kini harus meningkatkan kontribusi secara serius.
“Dari rumah tangga sudah mulai melakukan pemilahan sampah. Kita inginkan para pengusaha restoran, hotel, kafe, dan rumah sakit juga mulai menerapkan pemilahan sampah ini secara lebih serius,” ujarnya.
Menurut Imelda, pemilahan dari sumbernya akan meringankan beban operasional di lapangan sekaligus memperpanjang usia pakai TPA.
“Kasihan petugas kebersihan kita yang setiap hari mengangkat dan mengangkut sampah. Dengan adanya pemilahan, pekerjaan mereka menjadi jauh lebih mudah. Selain itu, sampah basah atau organik bisa langsung disalurkan ke para peternak yang siap memanfaatkannya sebagai pakan ternak,” ungkapnya.
Potensi 70 Persen Sampah Organik
Kepala DLH Kota Palu, Mohammad Arif, memaparkan timbulan sampah di Kota Palu kini menembus 218 ton per hari. Aktivitas rumah tangga, perhotelan, restoran, rumah sakit, hingga kafe menyumbang volume tersebut. Menariknya, sekitar 70 persen merupakan sampah organik yang memiliki nilai guna tinggi jika mendapat pengelolaan yang tepat.
Arif menjelaskan, isu persampahan menjadi atensi khusus Presiden RI melalui Kementerian Lingkungan Hidup. Pemerintah pusat mewajibkan daerah bergerak cepat memenuhi target nasional.
“Target yang harus dicapai minimal 50 persen timbulan sampah sudah harus dapat dikelola pada tahun ini. Artinya, sampah organik tidak lagi langsung dibuang dan menumpuk di TPA, tetapi dimanfaatkan kembali,” ujarnya.
Arif menambahkan, peternak lokal menjadi rantai penting dalam ekosistem ini karena mengubah sisa makanan menjadi pakan ternak bernilai ekonomis.
Melalui sosialisasi ini, Pemkot Palu mengharapkan komitmen pelaku usaha untuk memilah sampah dari sumbernya. Pemkot Palu memandang langkah kolektif ini sebagai kunci utama mewujudkan Kota Palu yang bersih, sehat, dan berkelanjutan.













