PERAYAAN Hari Ulang Tahun (HUT) ke-48 Kota Palu dipastikan berlangsung meriah. Sebanyak 150 perempuan dari pelbagai latar belakang profesi siap menyuguhkan pertunjukan spesial pada pembukaan perhelatan akbar yang digelar, Minggu (27/9/2026).
Ratusan penari energik ini bergabung dalam komunitas Palu Mama Menari, berkolaborasi dengan Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kota Palu, Bhayangkari, serta perwakilan ibu-ibu dari kelurahan se-Kota Palu.
Ketua Palu Mama Menari, Fanty J Hafid, mengungkapkan bahwa para pengisi acara terdiri dari ibu rumah tangga, pegawai swasta, Aparatur Sipil Negara (ASN), hingga para istri ASN dan anggota Polri. Ia memastikan seluruh tim telah merampungkan persiapan secara maksimal.
“Saat ini persiapan sudah mencapai 90 persen. Kami telah berlatih sejak pekan lalu dan sore tadi menyelesaikannya dengan gladi resik di halaman Kantor Wali Kota Palu,” ujar Fanty dalam siaran pers yang Eranesia.id terima, Sabtu (26/9/2026).
Selama sepekan terakhir, para peserta menjalani latihan intensif di bawah bimbingan pelatih tari profesional Christine Cahyani Larekeng. Sekretaris Daerah Kota Palu, Irmayanti Pettalolo, juga memantau langsung jalannya latihan rutin tersebut.
Makna Mendalam di Balik Tari “Roso Nu Mombine”
Pada acara pembukaan, kolaborasi akbar ini menampilkan karya seni bertajuk Tari Kreasi “Roso Nu Mombine”. Tarian ini merepresentasikan ketangguhan sekaligus kelembutan jiwa perempuan di tengah dinamika kehidupan dan kompleksitas relasi sosial.
Lewat gerakan yang anggun namun berwibawa, para penari memancarkan keteguhan hati dan ketulusan perempuan Tanah Tadulako. Para penari memilih properti kipas sebagai elemen utama, lalu mengayunkannya selaras dengan alunan musik gubahan penata musik Juli Idin Lanja.
Kipas dalam tarian ini melambangkan kesejukan, kesabaran, kelembutan, serta kekuatan batin. Selain itu, perancang memproduksi kipas-kipas tersebut secara khusus dengan menampilkan 16 motif wastra nusantara khas Kota Palu.
Perpaduan gerak tari dan motif wastra lokal ini menjadi simbol harmoni antara tradisi, kreativitas perempuan, serta upaya pelestarian budaya daerah. Trio penata tari berbakat Christine Cahyani Larekeng, Ivonda Sovia, dan Novi Angraini menciptakan pertunjukan karya seni ini.
Ruang Ekspresi dan Self-Healing Perempuan
Palu Mama Menari hadir sebagai wadah ekspresi bagi para ibu di Tanah Tadulako untuk mendalami dan mencintai seni budaya lokal. Anggota DPRD Kota Palu, Mutmainah Korona (Pendiri), menginisiasi komunitas ini bersama Fanty J Hafid (Ketua) dan Christine Cahyani Larekeng (Pelatih).
Lebih dari sekadar ruang berseni, komunitas ini berdiri sebagai ruang aman dan sarana pemulihan diri (self-healing) bagi perempuan dari berbagai latar belakang.













