Feature

Jejak Peluh Zevanya Mengibarkan Merah Putih

×

Jejak Peluh Zevanya Mengibarkan Merah Putih

Sebarkan artikel ini
Pembawa baki Paskibraka Sulteng, Zevanya QA Kalangie. Foto: Rusdia/Eranesia.id

PAGI itu, halaman Kantor Gubernur Sulawesi Tengah riuh oleh ketegangan yang tertahan. Di tengah langkah tegap dan derap sepatu yang memecah keheningan, ratusan pasang mata menatap sosok Zevanya QA Kalangie.

Jemarinya memegang erat baki berbalut kain kuning, menopang Sang Saka Merah Putih dengan senyum tenang yang menyembunyikan kerja keras puluhan hari.

Bagi siswi SMA Negeri 1 Palu ini, momen Peringatan HUT ke-81 RI pada Senin (17/8/2026) menjadi titik puncak perjuangan panjang.

Zevanya mengaku tak pernah membayangkan langkah kakinya membawa dirinya hingga ke posisi paling krusial tersebut.

“Tidak menyangka pelatih memilih saya menjadi pembawa baki. Awalnya saya hanya ingin menjadi pengibar, tetapi kakak-kakak pelatih mempercayakan tugas ini kepada saya,” tuturnya penuh haru seusai menuntaskan tugas tanpa cela.

Di balik senyum bahagianya, peluh dan kedisiplinan baja menempa fisiknya selama lebih dari satu bulan masa karantina. Keringat yang menetes di lapangan latihan menjadi saksi bisu bagaimana ujian fisik dan mental menggembleng para remaja pilihan ini setiap hari.

Bukan hanya Zevanya yang merasakan kebanggaan. Ketua Purna Paskibraka Indonesia (PPI) Sulawesi Tengah, Moh Rochmat, menegaskan bahwa kesuksesan pengibaran bendera ini merupakan buah manis dari pembentukan karakter intensif selama 45 hari.

Peran Badan Kesbangpol Sulteng dalam menunjang fasilitas, kesehatan, hingga mental para peserta turut menjadi fondasi kokoh di balik layar.

“Kami berterima kasih kepada pemerintah, dalam hal ini Kesbangpol Sulteng sebagai leading sector, yang memfasilitasi semua kebutuhan mulai dari pangan, kesehatan, kebutuhan latihan hingga insentif honorarium bagi para anggota Paskibraka. Pemerintah memenuhi kebutuhan anak-anak dari ujung kaki sampai ujung kepala, serta menyiapkan kesehatan, psikis, maupun mental mereka dengan baik,” jelasnya.

Dua putra-putri terbaik daerah kian melengkapi keharuman nama Sulawesi Tengah di panggung nasional dengan menorehkan tinta emas di Istana Negara.

Seorang pemuda asal Banggai Kepulauan memperkuat Pasukan 17 pada upacara pagi, sementara seorang siswi asal Palu mengemban tugas sebagai pengapit Kelompok Delapan saat penurunan bendera.

Di bawah langit Palu yang cerah, Zevanya dan rekan-rekannya membuktikan satu hal, kemerdekaan bukan sekadar seremoni, melainkan panggung bagi generasi muda untuk melangkah mantap menjaga martabat bangsa.